Lestari Moerdijat: Butuh Kehati-hatian Hadapi Tantangan Dampak Gejolak Ekonomi Global
📅 Rabu, 16 Jul 2025, 20:13 WIB | Oleh: SriyonoKarena, jelas dia, banyak produk-produk Indonesia menggunakan bahan baku dari luar negeri yang lebih kompetitif.
Ketua HIMKI Kabupaten Jepara, Hidayat Hendra Sasmita mengungkapkan, pada triwulan pertama 2025 indsutri furnitur di Jepara mengalami pertumbuhan 9,9 persen dari tahun lalu.
Hidayat mengaku optimistis terhadap kondisi saat ini, setelah tahun lalu menghadapi dampak perang Rusia-Ukraina yang mengakibatkan pasar furnitur turun 30 hingga 40 persen.
Menurut Hidayat, industri furnitur mampu beradaptasi terhadap dampak perang Rusia-Ukraina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketidakpastian dalam penerapan tarif oleh AS beberapa waktu lalu, tambah dia, sempat menekan volume ekspor furnitur ke AS hingga 50 persen.
Dosen Psikologi Universitas Pancasila, Silverius Y. Soeharso berpendapat, perang dagang yang dipicu penerapan tarif oleh AS terhadap sejumlah negara, bukan sekadar perang dagang, tetapi juga perang psikologis.
“Ini adalah perang psikologis yang sedang dimainkan oleh Trump. Jadi kalau kita panik menghadapi ini, kita akan kedodoran,” ujar Soeharso.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kondisi saat ini, jelas Soeharso, adalah peluang. Selain BRICS, menurut dia, Australia memiliki potensi ekonomi yang cukup besar sebagai salah satu negara tujuan ekspor.
Soeharso mendorong agar potensi sumber daya manusia (SDM) yang kita miliki harus didorong mampu mengisi kebutuhan tenaga kerja di sejumlah negara. “China dan India punya kebijakan untuk menempatkan warganya ke industri-industri di berbagai negara dunia,” ujarnya.
Wartawan senior, Saur Hutabarat, mengungkapkan, peluang-peluang di BRICS diperkirakan baru akan terbuka pada 2045, ketika GDP negara-negara anggota BRICS melampaui negara-negara G7. Saat ini, ujar Saur, Indonesia mulai merintis jalan untuk menjemput sejumlah peluang itu, bersamaan dengan pencapaian Indonesia Emas pada 2045.
Selain itu, menurut Saur, masa pemerintahan Donald Trump tinggal 3,5 tahun lagi dan AS berpeluang besar dipimpin oleh presiden yang baru dan kemungkinan besar tidak melanjutkan kebijakan Trump.
Jadi, ujar Saur, membuang energi yang berlebihan dan terlalu reaktif menyikapi kebijakan Trump saat ini tidak terlalu bijaksana. Karena itu, Saur berpendapat, Indonesia harus melihat ke dalam untuk segera menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah untuk membangun ekosistem bisnis dan investasi yang baik.
“Bila kepastian hukum masih seperti saat ini, saya khawatir tidak ada investor yang datang dan pengusaha tidak akan membangun usaha di sini,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!