Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Mimpi Anak Timor untuk Indonesia Emas: Sekolah Rakyat Jadi Cahaya Perubahan

📅 Senin, 14 Jul 2025, 10:25 WIB | Oleh: Tim Penulis
Mimpi Anak Timor untuk Indonesia Emas: Sekolah Rakyat Jadi Cahaya Perubahan Doc: Antara Foto
Ket. Omri Nomseo, salah satu siswa Sekolah Rakyat berpose bersama keluarga di Desa Niunbau, Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

Raungan mesin diesel mobil-mobil minibus yang tiba beriringan dari arah gerbang, seketika memecah konsentrasi para tukang malam itu yang masih sibuk memoles bangunan di Sentra Efata Kupang.

Sentra seluas 12 hektare ini merupakan UPT Kementerian Sosial di Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur yang sejumlah bangunannya sementara dimanfaatkan untuk Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19.

Bagi sebagian tukang, kedatangan rombongan siswa malam itu mungkin terasa sebagai tanda yang mendesak kalau pekerjaan mereka harus rampung malam itu juga.

" Yoooo ayooo!, selesai-selesai, bersih-bersih," teriak salah satu tukang dengan bahasa Jawa dari dalam ruang kelas yang diawasi penuh oleh mandornya.

Ada sebanyak sembilan asrama, empat ruang kelas, dua ruang guru, hingga fasilitas penunjang lainnya seperti laboratorium, perpustakaan, OSIS, ruang kesenian, klinik/UKS termasuk mushala maupun gereja milik sentra yang disiapkan untuk SRMP.

Semua bangunan itu sudah tampak megah, dengan dinding di cat paduan warna putih dan oranye. Namun belum semua fasilitas seperti kursi dan meja tersusun rapi. Bahkan perangkat komputer hingga pernak-pernik di laboratorium IPA juba pun belum nampak terpasang pada tempatnya.

Asrama, terutama, mau tidak mau harus segera bersih dari segala debu, sisa cat, hingga tumpukan ember dan sekop agar para siswa yang baru tiba itu bisa beristirahat dengan tenang dan nyaman.

Pada saat yang sama, sejumlah guru menyambut ramah kedatangan para siswanya. Meski harus meladeni beberapa dari mereka yang tak sabar untuk segera turun saat pintu samping minibus belum terbuka sepenuhnya.

Ada anak yang menjerit karena terjepit, ada satu kakinya sudah menginjak jalan sementara tubuhnya masih tertahan di dalam mobil. Lalu ada pula sebagian lain mencoba melintas dari pintu belakang padahal penuh tumpukan koper dan tas jinjing.

Alih-alih marah dengan tingkah polos murid-muridnya, para guru dan wali asrama yang wajahnya sudah tampak kusam itu justru sigap menuntun mereka turun secara tertib. Barang-barang disusun dan para siswa langsung diarahkan menuju ruang registrasi.

Demikianlah sambutan pertama sekaligus akhir dari perjalanan panjang menjemput seratus anak menjadi siswa SMRP 19 Kupang.

Kalender ajaran baru 2025/2026 pun segera dimulai pada Senin (14/7) pagi. Sejak itu mereka akan menjalani pemeriksaan kesehatan kedua, lalu seterusnya mengikuti rangkaian orientas agar lebih saling mengenal dengan teman baru, kepala sekolah, para guru, wali asrama, hingga beradaptasi dengan lingkungan sekolah yang akan menjadi rumah mereka beberapa tahun ke depan.

Salah satu dari mereka adalah Kristo Jenewery Mansula (12). Anak kedua dari empat bersaudara asal Desa Pariti Sulamu, Kabupaten Kupang itu tiba lebih dulu dibandigkan teman sebayanya, seperti Omri Nomseo dan Irene Patrisia yang tinggal jauh di perbukitan Oemasi, Nekamese.

Ayah Kristo berprofesi sebagai buruh tani musiman dan pedagang ikan keliling dengan penghasilan sekitar Rp500 ribu per bulan. Jumlah ini jauh dari kata cukup untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga sehari-hari. Apalagi membiayai pendidikan empat buah hatinya, dimana kakak Kristo masih dibangku SMA, sementara dua adiknya masih SD.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.