Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ilmuwan Australia Uji Coba Batuan Vulkanis untuk Pertanian

📅 Senin, 14 Jul 2025, 21:32 WIB | Oleh:
Ilmuwan Australia Uji Coba Batuan Vulkanis untuk Pertanian Doc: National Museum of Australia
Ket. Bendera Australia. Pertanian di Australia menghasilkan hampir 18 persen dari total gas rumah kaca di negara itu. Mengganti kapur dengan basal dapat mengurangi emisi ini dan membantu mencapai target net-zero per 2050.

CANBERRA - Sejumlah peneliti Australia sedang menguji coba pendekatan baru untuk pertanian yang dapat membantu mengatasi biaya pertanian dan mengurangi emisi iklim.

Basal yang dihancurkan, produk sampingan batuan vulkanis yang jumlahnya melimpah dan berbiaya murah dari aktivitas pertambangan dan konstruksi, dapat membantu petani Australia melakukan penghematan signifikan setiap tahunnya dan membantu memerangi perubahan iklim, kata para peneliti dari Universitas Australia Selatan (University of South Australia/UniSA) pada Senin (14/7).

Sebuah uji coba nasional sedang menguji penggunaan basal yang dihancurkan, dengan biaya hanya 30 dolar Australia (1 dolar Australia = Rp10.682) atau 19,69 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.221) per ton, sebagai sebuah cara berbiaya rendah untuk mengurangi keasaman tanah, meningkatkan hasil panen, dan menangkap karbon, yang semuanya menggunakan peralatan pertanian standar dan biaya tambahan minimal, kata Binoy Sarkar, senior research fellow di Future Industries Institute UniSA, yang memimpin uji coba tersebut.

"Petani Australia menghabiskan hampir 1,2 miliar dolar Australia per tahun untuk mengatasi pengasaman tanah, menggunakan material pengapuran yang mahal dan justru ikut berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca," sebut Sarkar.

Basal tidak hanya mengurangi keasaman tanah, tetapi juga memasok nutrisi utama seperti fosfor, kalsium, magnesium, dan silikon, sehingga mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan mendongkrak keuntungan pertanian, lanjutnya.

Pertanian di Australia menghasilkan hampir 18 persen dari total gas rumah kaca di negara itu. Mengganti kapur dengan basal dapat mengurangi emisi ini dan membantu mencapai target net-zero per 2050, menurut tim kolaboratif yang melibatkan UniSA Australia, Universitas James Cook, Tropical North Queensland Drought Hub, serta mitra-mitra industri dalam dua proyek yang didanai oleh pemerintah federal dan swasta.

Inisiatif itu juga menguntungkan bagi industri pertambangan, memberikan nilai baru pada limbah basal sebagai pembenah tanah, tutur para peneliti.

Jika berhasil, teknologi tersebut dapat mendorong pengadopsian skala besar, memungkinkan petani dan pemilik tambang untuk memperoleh kredit karbon dan mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan, ujar Sarkar, seraya menambahkan bahwa uji coba yang sedang berlangsung bertujuan untuk membangun kepercayaan dan mempercepat penerapannya di seluruh negeri. Ant/Xinhua

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.