Agar Ekspor Tidak Mati, RI Harus Siasati Supaya Tidak Dikenakan Tarif 32% dari AS
📅 Senin, 14 Jul 2025, 02:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiFenomena itu terlihat pada kebergantungan pada utang, daya beli masyarakat turun dan sulitnya memperoleh pekerjaan.
Tiongkok Tidak Kuat
Lebih lanjutHeru mengatakan kalau Tiongkok saja tidak kuat menghadapi jika AS menutup pintu pasar mereka, maka negara-negara lain termasuk Indonesia harus belajar dari kondisi tersebut.
Apalagi Menlu AS Marco Rubio pernah mengatakan jika dunia terbiasa keenakan berdagang dengan AS, begitu fasilitas ditiadakan mereka langsung komplain. “Amerika punya hak melindungi pasar dan industri dalam negeri mereka, apalagi Trump sebagai pebisnis sangat pintar, Indonesia juga seharunsya begitu,” ungkap Heru.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia pun berharap Presiden Prabowo Subianto yang saat ini berkuasa mengerti dan paham kalau oligarki hanya menguntungkan kepentingan kelompok, tetapi negara lemah.
“Oligarki merusak karena kepentingan kelompok selalu abaikan kepentingan nasional. Seharusnya seperti Trump yang memperkuat kepentingan nasional,” katanya.
Saat ini industri di AS meningkat, karena dengan meningkatkan daya saing, dana yang besar digunakan untuk investasi ke sektor riil sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Investor asing pun masuk karena lebih murah jika mereka produksi di AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
AS jelasnya sekarang berpegang pada prinsip kalau investor tidak mau kena tarif, harus berinvestasi di AS, karena pasar begitu besar di mana 40 persen dari ekspor dunia masuk ke negara ekonomi terbesar dunia itu.
“Dia punya daya tawar yang tinggi, makanya kenapa AS disebut negara adidaya. Beda dengan RI yang malah lebih ngemis utang. Salah siapa?. Kita menawari sumber daya alam, sedangkan mereka juga punya,” katanya.
Apalagi, sudah menjadi fakta kalau kebergantungan pada SDA adalah Dutch Desease (penyakit Belanda-red) tidak pernah memakmurkan rakyat. Sekarang, malah coba diulang lagi dengan hanya mengandalkan kekayaan alam, tanpa ada daya saing teknologi.
Diminta pada kesempatan terpisah, Doktor Ekonomi lulusan Universitas Tanjung Pura (Untan) Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabinus Beni mengatakan, kalau AS mengenakan tarif ke produk RI, maka para eksportir tidak akan bisa berdagang lagi yang akan berdampak pada hilangnya devisa dan rupiah pun terancam semakin terpuruk.
Oleh sebab itu, dia meminta Pemerintah, bagaimana pun Indonesia masih sangat butuh AS sebagai mitra. Apalagi utang dalam dollar AS sangat besar. Surplus perdagangan dengan AS menentukan apakah menjadi defisit, atau masih ada tidak surplus devisa untuk digunakan mengimpor barang modal.
“Kalau mau membangun fondasi industri dan pertanian, Pemerintah hanya perlu menutup impor barang substitusi, dan kita harus bekerja dengan negara yang mempunyai teknologi dan industri yang setuju kita gunakan sebagai balancing untuk perdagangan dengan mereka,” kata Sabianus.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!