Inovasi Pertanian: Bakteri Bisa Kendalikan Hama Tanpa Pestisida Kimia
📅 Minggu, 13 Jul 2025, 07:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara Foto
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Tri Joko menyebut bakteri dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pestisida sintetis dalam pertanian berkelanjutan.
"Pemanfaatan bakteri yang terintegrasi dengan teknik pengelolaan penyakit dapat menjadi pendekatan pertanian berkelanjutan yang dapat mengurangi penggunaan pupuk dan pestisida sintetis," kata Tri Joko dalam keterangannya, di Yogyakarta, Sabtu (12/7).
Menurut dia, pemanfaatan bakteri sebagai "plant growth promoting bacteria" (PGPB) dan agen pengendali hayati (APH) unggul akan berhasil jika pengelolaannya dipahami dengan benar.
Interaksi bakteri dan tanaman, kata dia, telah berevolusi menuju keseimbangan yang saling menguntungkan.
"Interaksi bakteri dan tanaman sudah mengalami evolusi menuju terciptanya keseimbangan keduanya dalam mendapatkan manfaat dari interaksi tersebut," ujar Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Tri, bakteri tidak hanya berperan dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), tetapi juga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara langsung.
"Bakteri juga dapat meningkatkan pertumbuhan secara langsung melalui berbagai mekanisme dengan menyediakan faktor pertumbuhan," kata Tri pula.
Ia menjelaskan bahwa bakteri APH berperan dalam kesehatan tanaman tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui mekanisme pensinyalan biokimia.
Interaksi antara tanaman dan bakteri di rizosfer (wilayah tanah di sekitar akar tanaman) turut menentukan kesehatan tanaman, produktivitas, dan kesuburan tanah.
Tri menuturkan bakteri bisa menjadi lawan alami penyakit tanaman. Beberapa jenis bakteri seperti Bacillus, Streptomyces, dan Pseudomonas telah lama dikenal sebagai APH yang mampu mengendalikan serangga hama maupun nematoda parasit tumbuhan.
"Bakteri sudah banyak dimanfaatkan untuk mengendalikan serangga hama maupun nematoda parasit tumbuhan," kata dia.
Saat pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Bakteriologi Tumbuhan di Fakultas Pertanian UGM, Tri mengulas sejarah lahirnya bakteriologi tumbuhan yang ditandai dengan penemuan penyakit hawar api (fire blight) pada tanaman pir oleh Thomas Jonathan Burrill pada tahun 1878.
Dia menyebut penyakit tumbuhan akibat infeksi bakteri hingga kini masih menjadi ancaman serius di sektor pertanian.
Kehilangan hasil pertanian akibat penyakit bakteri, menurut dia, bervariasi tergantung jenis penyakitnya, dan secara global diperkirakan menyebabkan kerugian hingga 49,6 miliar dolar AS setiap tahun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!