Kain Tradisional, Harapan Baru: Perempuan UMKM Sumatra Berkarya Lewat Tapis dan Batik
📅 Jumat, 27 Jun 2025, 15:20 WIB | Oleh: Tim PenulisIa mendapatkan akses pelatihan, kurasi produk, hingga keikutsertaan di pameran-pameran dalam dan luar negeri. Dari Kota Metro di Lampung ke Jakarta, Turki, sampai Osaka di Jepang, karya Linda menjangkau panggung internasional. Pelanggan pun datang dari Australia, Georgia, hingga Nikaragua.
“Saya kan dari kota kecil, di kabupaten, di Kota Metro. Pasar kita baru sekitar Kota Metro. Kemudian ada beberapa teman di Jakarta yang membeli, teman-teman yang kita kenal. Tapi setelah ada BI, pasarnya lebih meluas,” ucap Linda.
Harga setiap potong busana dipatok dengan kisaran mulai dari Rp500 ribu hingga Rp3,5 juta, tergantung jenis dan kerumitan tapis. Meski ekonomi sedang lesu dan pesanan dari instansi mulai menurun, Linda tetap optimistis. Ia menyasar pelanggan-pelanggan loyal dan fokus menjaga kualitas.
Yang jelas, Linda tak hanya sekadar menjual pakaian. Ia menenun ulang cara kita memandang kain tradisional: bukan sebagai benda yang hanya disimpan dan dikenakan di waktu-waktu tertentu, tapi sebagai bagian hidup yang bisa diceritakan dan dimaknai ulang.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Tidak sekedar saya jualan baju. Saya ingin kembali melestarikan atau mengenalkan kepada anak-anak muda tentang cerita-cerita leluhur yang layak untuk selalu didengungkan,” tutur Linda.
Di seberang pulau dari timur laut dari Kota Metro, Diana, seorang perempuan ibu rumah tangga asal Belitung juga memulai langkah serupa, meski dimulai dari rumah dan modal Rp1 juta.
Diana, pendiri jenama Kelekak Batik, tak hanya membuat batik khas pesisir tapi juga menghadirkan ruang aman dan produktif bagi penyandang disabilitas.
Seperti Linda, Diana melihat kain bukan sekadar produk, tetapi sarana untuk menumbuhkan martabat, keterampilan, dan rasa percaya diri, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang kerap terpinggirkan.
Diana memulai usahanya pada 2019 dengan modal yang minim. Tak ada pegawai, tak ada mesin canggih, hanya berbekal kompor batik kaleng, selembar kain, dan kemauan untuk belajar.
Mulanya ia membatik sendiri. Seiring dengan produknya yang mulai laku terjual, ia pun mengajak tetangganya yang seorang tunarungu untuk membantu. Dari sana, karyawan bertambah menjadi empat orang, semuanya penyandang disabilitas.
Diana bukan sekadar membangun unit produksi, tapi ruang tumbuh yang ia sebut “Kelekak”. Nama ini kemudian dipilih untuk jenamanya. Dalam bahasa setempat, “kelekak” berarti tempat yang rindang, lambang kesuburan dan kehidupan. Filosofi itu Diana tanamkan dalam segala hal, mulai dari desain, proses kerja, sampai pola relasi dengan para pekerjanya.6
Batik Belitung memiliki ciri khas warna-warna pesisir yang mencolok dan motif flora serta fauna laut. Batik ini dibuat dengan teknik handmade (batik tulis) dan cap. Diana juga mengembangkan ecoprint, teknik cetak langsung dari daun. Ada pula kain batik dengan kombinasi sulam.
Semua teknik ia ajarkan sendiri kepada para karyawan disabilitasnya. Bagi Diana, memproduksi batik bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang memberi ruang dan peluang bagi disabilitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!