Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kain Tradisional, Harapan Baru: Perempuan UMKM Sumatra Berkarya Lewat Tapis dan Batik

📅 Jumat, 27 Jun 2025, 15:20 WIB | Oleh: Tim Penulis

“Mereka sebenarnya butuh ruang untuk berkreativitas. Kesempatan buat mereka selama ini kecil," tutur Diana.

Ia menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Semua bahan baku, mulai dari kain, lilin atau malam batik, pewarna, hingga canting, harus didatangkan dari Solo. Ongkos kirim terbilang mahal, sementara skala produksinya masih terbatas.

Namun Diana tak berhenti. Salah satu siasatnya, ia membuat alat cap batik sendiri dari kardus bekas. Daya tahannya memang tidak sekuat cap tembaga. Bagi Diana, itu lebih efisien dan cukup untuk menjaga produksi tetap berjalan. Dari keterbatasan ini, ia tak mencari alasan melainkan mencari jalan keluar.

Perlahan, jenama Kelekak Batik ini berkembang. Pendampingan dari Bank Indonesia sejak 2021 membawa jenama ini ke pameran-pameran nasional dan membuatnya dikenal lebih luas. Pendapatan Kelekak Batik yang dulunya hanya sekitar Rp7 juta per bulan, melonjak hingga rata-rata Rp35 juta per bulan pada tahun lalu.

Di tengah tantangan ekonomi saat ini, sama seperti yang dialami jenama Jan Ayu, permintaan Kelekak Batik dari konsumen segmen instansi mulai menurun. Meski begitu, Diana fokus kepada strategi penjualan daring. Harapannya, pasar terbuka semakin lebar.

Bagi Linda maupun Diana, kehadiran Bank Indonesia bukan sekadar dukungan institusional tetapi pertemuan penting yang membuka jalan perubahan. Kurasi rutin, fasilitasi pameran, hingga pelatihan pemasaran, semua langkah ini memperkuat bukan hanya bisnis mereka melainkan juga misi sosial dan kultural yang mereka bawa.

Keduanya tidak sekadar mengkreasikan wastra. Di tangan Linda, tapis bukan lagi benda sakral yang tersimpan di lemari, tapi menjadi pakaian sehari-hari yang memuat cerita dan nilai. Sedangkan di tangan Diana, batik bukan hanya produk seni, tapi juga ruang hidup bagi penyandang disabilitas untuk berkarya dengan percaya diri.

Bisnis yang dimulai dari rumah dengan kesederhanaan, kini telah berkembang setahap demi setahap. Namun lebih dari itu, Linda dan Diana juga menunjukkan bahwa ketika warisan budaya digerakkan oleh hati dan dikuatkan oleh strategi, hasilnya tak hanya menggerakkan ekonomi dan menciptakan perubahan, tapi juga menyalakan kembali ingatan akan identitas.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Daerah
Antisipasi Gempa Susulan, M...
Megapolitan
Motor Pedagang di Kelapa Ga...
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.