Ekonomi RI Sulit Berkembang, Jika Oligarki Mengatur Semuanya
📅 Selasa, 24 Jun 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiSementara itu, peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Bhuana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut mengatakan kalau Jepang dan beberapa negara Eropa sebenarnya memiliki hutan, tetapi mereka tidak menebang dan lebih memilih mengimpor kayu dari negara lain untuk kebutuhannya. Begitu juga dengan tambang batubara, mereka tidak menggali karena mereka memelihara alam, bukan menghancurkannya.
“Mereka bukan tidak mau mineral, tetapi mereka memilih tidak menggali karena akan merusak lingkungan,” katanya.
Di Indonesia, malah sampai wilayah pulau pun bergeser seperti empat pulau yang tadinya milik Aceh bisa berubah menjadi milik Sumut, karena ada tambang di sana.
Lebih lanjut dia mengatakan beberapa perusahaan Amerika Serikat (AS) banyak yang pindah ke luar negeri untuk mendapat sumber buruh murah. Makanya, oleh Pemerintah AS dikenakan tarif tinggi supaya pindah. Pengenaan tarif itu supaya industri di AS yang butuhnya mahal, bisa bersaing dengan produk impor yang dikenakan tarif tinggi.
Sebaiknya Anda baca juga:
“?Perushaaan besar diperlukan untuk bersaing global tapi bukan perusahaan yang mengekspor mineral, harus bernilai tambah. Itu yang dilakukan AS dan Jepang. Dia besarkan produk mereka untuk ekspor dunia. Bukan pakai barang impor untuk konsumsi nasional. Ekonomi kerakyatan harus dibela. Minimarket itu menyedot ekonomi desa,” pungkasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!