Perempuan Dayak Melawan Dampak Tambang Batu Bara dengan Kebun Cabai
📅 Minggu, 22 Jun 2025, 14:00 WIB | Oleh: Tim PenulisBanyak kaum laki-laki terpaksa beralih menjadi buruh tambang, sementara perempuan, mencoba bertahan dengan cara lain seperti mengajar, membuka usaha kecil, dan kini bertani cabai.
Bertani cabai: Simbol perlawanan dan ketahanan
Para perempuan Dayak Basap memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam cabai, sebagai sumber ekonomi alternatif. Komoditas ini dipilih karena masa panennya cepat dan permintaannya tinggi, serta berpengaruh pada inflasi lokal.
Inisiatif ini merupakan proyek percontohan dari tim Just Transition Indonesia yang dimulai pada 2024 bersama Universitas Parahyangan dengan dukungan Energi Muda, LSM lokal yang fokus dengan isu transisi energi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di atas lahan 700 m², masyarakat setempat diajarkan menggabungkan pertanian tradisional dengan metode permakultur modern, termasuk menggunakan kompos dan rotasi tanaman. Anak-anak muda lokal juga dilibatkan sebagai penggerak, untuk memperkuat komunitas dalam transisi pasca-batu bara.
Hasilnya cukup menjanjikan. Dengan dukungan ilmu dan teknologi pertanian dari startup HARA, perempuan adat suku Dayak Basap berhasil menangani kendala tanah asam dan air yang tercemar akibat tambang, saat melakukan pembibitan. Bahkan, hasil panen mereka melampaui metode pertanian konvensional yang pernah diuji sebelumnya.
Mereka juga belajar menjual hasil panen langsung ke konsumen seperti restoran dan produsen kerupuk, tanpa perantara tengkulak atau pengepul. Ini memperkuat posisi tawar dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kolaborasi antara pengetahuan tradisional dan inovasi modern terbukti bisa mengangkat kapasitas komunitas adat sekaligus memberikan manfaat ekonomi nyata bagi mereka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Namun, jalannya tentu tidak mudah. Lahan bekas tambang perlu waktu lama untuk pulih. Tanah asam dan air yang tercemar logam berat menjadi tantangan. Akses alat dan pupuk yang terbatas juga menjadi hambatan. Dalam beberapa kasus, masyarakat harus membeli bibit yang sudah tumbuh agar proses tanam bisa lebih cepat.
“Program tanam cabai ini sudah sangat bagus sekali..Cuman keadaan tanah sih kemarin tuh yang enggak memadai dan sulit untuk diperbaiki.. Kalau ada kesempatan, mungkin kita bisa coba bertani yang enggak sekali musim saja..”
Selain itu, transisi dari pola tanam berpindah ke sistem pengelolaan jangka panjang memerlukan pelatihan yang berkesinambungan. Adaptasi semacam ini tentu tidak bisa dilakukan dalam semalam dan memerlukan pendampingan yang intensif.
Transisi energi berkeadilan
Inisiatif seperti ini memberi banyak pelajaran.
Pertama, transisi energi harus melibatkan masyarakat lokal, khususnya perempuan, sejak awal.
Kedua, pendekatan kolektif berbasis komunitas terbukti lebih menjanjikan keberlanjutan dibanding program top-down yang seringkali tidak menyentuh kebutuhan nyata di lapangan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!