Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Metode 'Tobacco Harm Reduction’ Dianggap Ampuh Turunkan Angka Perokok

📅 Sabtu, 14 Jun 2025, 21:35 WIB | Oleh:
Metode 'Tobacco Harm Reduction’ Dianggap Ampuh Turunkan Angka Perokok Doc: Freepik

JAKARTA - Ahli kesehatan Arifandi Sanjaya mengatakan metode Tobacco Harm Reduction (THR) menjadi pilihan dalam membantu berhenti perokok. Swedia menjadi negara pertama yang dinyatakan bebas asap rokok dengan jumlah perokok berada di bawah lima persen.

Pencapaian ini didapat setelah negara tersebut menerapkan metode Pengurangan Risiko Tembakau atau THR.

"Berdasarkan yang saya amati, penggunaan THR bagi masyarakat yang teredukasi, akan mendorong orang lepas dari rokok," kata ahli keseharan Arifandi Sanjaya dalam keterangannya yang dikutip, Sabtu (14/6).

Menurut Arifandi, pemerintah bisa memfokuskan metode ini agar angka perokok bisa turun. "Menurut saya, memang harusnya ada satu divisi yang berhubungan dengan harm reduction ini di Indonesia,” kata Arifandi.

Pendekatan ini kata Arifandi tetap menekankan bahwa berhenti adalah pilihan terbaik. Namun keberadaan produk alternatif mendorong penggunaan produk yang lebih rendah risiko.

Arifandi menjelaskan bahwa efektivitas metode ini bergantung pada banyak faktor, salah satunyapenggunaan produk alternatif yang mengeluarkan uap. Hal ini tak terlepas dari adanya kebiasaan yang dilakukan saat merokok, yang membuat proses peralihan berjalan lancar.

Selain itu, keberadaan perasa dalam produk alternatif membuat pengguna menjauh dari produk tembakau. Meskipun begitu, perasa dalam produk alternatif bukan diciptakan untuk menarik minat non-perokok, melainkan untuk dimanfaatkan oleh perokok.

“Pengguna yang masih mendapat sensasi kebiasaan merokok ketika pengguna melakukan aktivitas menghisap dan mengeluarkan sesuatu itu lebih efektif. Selain itu, banyak sekali orang sebenarnya tidak suka dengan wangi rokok, ini menunjukkan perlunya opsi (alternatif),” ujar Arifandi.

Pemerintah diharapan mendukung dalam pengusunan Regulasi Penerapan metode THR di Swedia. Selain itu, edukasi dan penelitian mengenai produk alternatif harus  terus dilakukan.

“Edukasi dan penelitian itu penting. Tanpa penelitian yang valid dari pemerintah, masyarakat masih akan bingung,” kata Arifandi.

Sebelumnya, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menyampaikan bahwa pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama. Kerjasama dilakukan untuk menekan jumlah penggunaan produk tembakau seperti rokok di Indonesia.

Beberapa upaya yang sudah dilakukan di antaranya dengan melakukan monitor konsumsi produk tembakau dan pencegahannya. Serta optimalisasi dukungan pelayanan program Upaya Berhenti Merokok (UBM).

“Kita tahu bahwa Indonesia memasuki bonus demografi dan kita ingin menyiapkan SDM yang andal pada 2045. Kita ingin memiliki SDM yang tidak memiliki faktor risiko terhadap rokok,” ujar Siti dalam media briefing, Senin (2/6). ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

45 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.