TPST Bantargebang “Icon” Nasional Terancam Tumbang
📅 Rabu, 11 Jun 2025, 16:05 WIB | Oleh: Bagong Suyoto
Pengelolaan air lindi tak maksimal pada IPAS I dan II. Ketika musim hujan, air lindi bercampur air hujan bertambah banyak mengalir ke saluran air menuju kali Ciketing. Selanjutnya bertambah lagi, ditambah lindi dari TPA Sumurbatu dan limbah tinja IPLT Sumurbatu menuju Kali Asem, Kali Pedurenan, Perumahan Dukuh Zamrud, Perumahan Niagara, Mutiara Gading Bekasi Timur, crossing tol Jatimulya Kalimalang.
Keempat, warga tekor air bersih layak dikonsumsi. Sebagian uang warga untuk beli air minum (mineral galon), keluarga kecil habis 2–3 galon per minggu, keluarga besar habis 4–5 galon per minggu. Harga air mineral isi ulang Rp5–6 ribu/galon, yang asli Rp18–20 ribu/galon. Air tanah sekitar rata-rata sudah tercemar, kadar pH-nya tidak normal, bahkan ada yang tercemar logam berat.
Kelima, ancaman kesehatan sangat nyata. Ada 20 penyakit terbesar berdasar data UPTD Kecamatan Bantargebang tahun 2017. Penyakit tersebut, yaitu ranking pertama ISPA, Dispepsia, Demam yang tidak diketahui, Diare dan Gastroenteritis, Faringitis Akuta, Myalgia, Hipertensi Primer (esensial), Migren dan sindrom nyeri kepala, Artritis lainnya, Gastritis dan duodenitis, Diabetes Mellitus tidak spesifik, kunjungtivitis, Nasofaringitis Akuta (Common Cold), Tonsilitis Akuta, Gangguan lain pada kulit, Pneumonia, Abses, Furunkel, Karbunkel Futan, Varisela/Cacar air, Dermatitis Kontak, dan Rematisme tidak spesifik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keenam, lahan pemukiman warga semakin sempit, tergerus perluasan TPA dan industri,terutama lahan sawah di sekeliling TPST sudah lenyap. Wilayah permukiman Kelurahan Sumurbatu, Ciketingudik dicengkeram oleh pelebaran TPST Bantargebang, TPA Sumurbatu, pabrik pengolah limbah industri (B3) dan industri lain.
Sejumlah warga Sumurbatu mengakawatirkan wilayahnya akan hilang dari Peta Kota Bekasikarena diokupasi untuk kepentingan tersebut, sementara permukiman warga hilang dan warganya menyingkir dari tanah kelahirannya. Diprediksi 15–20 tahun kedepan pemukiman warga akan hilang 50–70 persen jika sampah tidak diolah habis.
Ketujuh, konflik sosial terbuka dan tersembunyi. Pada 1999–2009 terjadi konflik horizontal dan vertikal. Hampir setiap tahun terjadi demontrasi buka tutup TPST Bantargebang. Puncaknya pada tragedi “Sabtu Kelabu” akhir 2021, sebanyak 26 warga ditangkap Polres Metro Bekasi, kemudian dipindahkan Polda Metro Jaya. Mereka itu pejuang dan pahlawan kompensasi, kini “direbut” Pemkot Bekasi sejak 2016/2017. Rentang waktu 2009–2023konflik sosial itu cenderung relatif datar dan tersembunyi.
Sebaiknya Anda baca juga:

Kedelapan, Makam Mbah Raden Kebluk terancam sampah longsor. Merupakan makam tokoh pendiri Kelurahan Sumurbatu, pun dimakamkan para tetua dan penduduk dari Sumurbatu, Cikiwul, Ciketingudik, dll. Pemakaman itu lahannya berkurang terdesak pelebaran TPST.
Sedangkan keuntungan adanya TPST Bantargebang,di antaranya: Pertama, warga sekitar dapat uang bau. Sebanyak lebih 28 ribu warga Kelurahan Cikiwul, Ciketingudik, dan Sumurbatu mendapat uang bau sebesar Rp400 ribu/bulan serta 1.500 warga Kelurahan Bantargebang mendapat separonya per bulan.
Kedua, warga dapat bantuan pembangunan fasilitas kesehatan, seperti puskesmas dan rumah sakit, serta pengobatan gratis,juga ada yang dapat BPJS Kesehatan.
Ketiga, dapat air bersih dari sumur dalam. Warga Kelurahan Cikiwul, Ciketingudik, Sumurbatu mendapat air bersih berasal dari sumur dalam. Setiap kelurahan ada 6–8 titik. Pembuatan, pengoperasian, dan pemeliharaan menjadi kewenangan Dinas LH Kota Bekasi.
Keempat, Pemkot Bekasi dapat Dana Kemitraan. Besaran dana kemitraan bervariasi antara Rp350–450 miliar per tahun. Dana tersebut jadi Pendapatan Asli Daerah (PAD) digunakan untuk berbagai proyek pembangunan Kota Bekasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!