Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Desa Siaga TB: Upaya Terpadu Indonesia Menuju Eliminasi Tuberkulosis 2030

📅 Rabu, 11 Jun 2025, 15:55 WIB | Oleh:
Desa Siaga TB: Upaya Terpadu Indonesia Menuju Eliminasi Tuberkulosis 2030 Doc: Getty Images

JAKARTA - Tuberkulosis (TB) masih menjadi tantangan serius dalam sektor kesehatan di Indonesia. Berdasarkan Laporan Tuberkulosis Global 2024 yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia menempati posisi kedua setelah India dalam jumlah kasus TB terbanyak di dunia. Data menunjukkan bahwa Indonesia mencatat sekitar 1,06 juta kasus dengan 134.000 kematian akibat TB setiap tahunnya.

Menanggapi situasi tersebut, Kementerian Kesehatan secara resmi meluncurkan program Desa Siaga TB pada 9 Mei 2025 sebagai upaya mempercepat pemberantasan TB secara nasional. Program ini merupakan bagian dari strategi besar Indonesia untuk mencapai target eliminasi TB pada tahun 2030. Berdasarkan laporan Antara, program ini telah dimulai di delapan desa percontohan yang tersebar di wilayah Jakarta Timur, Medan, Tangerang, Bekasi, Bogor, Karawang, Cianjur, dan Brebes.

Program Desa Siaga TB memiliki sejumlah fungsi penting, di antaranya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TB, termasuk bahaya penularan dan upaya pencegahan. Selain itu, program ini juga memfasilitasi akses yang lebih cepat ke layanan medis bagi pasien TB dan orang-orang yang berkontak erat dengan mereka. Program ini didesain agar masyarakat lebih proaktif dalam pencegahan dan penanganan kasus di lingkungannya masing-masing.

Tidak hanya fokus pada deteksi dan pengobatan, program ini juga mendorong pemantauan pengobatan jangka panjang untuk mencegah pasien menghentikan pengobatan di tengah jalan. Petugas kesehatan masyarakat yang tergabung dalam Desa Siaga TB juga bertugas melakukan pelacakan kontak serta menjalin kolaborasi dengan pusat layanan kesehatan guna membendung penyebaran TB. Upaya ini sekaligus bertujuan untuk menghapus stigma sosial yang masih melekat pada pasien TB, sehingga mereka dapat menjalani pengobatan dengan aman dan bermartabat.

Kementerian Kesehatan mencatat peningkatan cakupan pengobatan TB secara signifikan. Pada tahun 2022 terdapat 635.840 kasus yang tertangani, meningkat menjadi 722.863 pada 2023. Angka ini diproyeksikan naik menjadi 802.228 pada 2024, dan ditargetkan mencapai 931.950 kasus pada 2025. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa tantangan terbesar bukan hanya mengidentifikasi kasus, tetapi memastikan pasien sembuh total melalui pengobatan yang tuntas.

“Di Indonesia sendiri, diperkirakan satu juta orang baru terinfeksi setiap tahunnya, dan 125.000 di antaranya meninggal. Artinya, satu warga negara Indonesia meninggal karena TBC setiap empat menit,” ungkap Budi, mengutip situs resmi Kementerian Kesehatan. Ia menambahkan bahwa strategi pengendalian TB terdiri dari tiga langkah utama: menemukan kasus TB yang belum terdeteksi, menangani pasien sesegera mungkin setelah diagnosis, dan memastikan pengobatan dijalani hingga tuntas.

“Jangan ditunda. Jangan dirujuk ke rumah sakit, langsung diberikan obat. Ini penting agar tidak menularkan penyakit ke orang lain,” tegas Budi, menekankan pentingnya tindakan cepat setelah diagnosis TB. Ia juga mengingatkan bahwa penghentian pengobatan dapat menyebabkan resistensi obat, yang pada akhirnya membuat pengobatan menjadi lebih sulit dan mahal.

Stigma yang melekat pada penyakit TB juga menjadi perhatian serius. Banyak pasien enggan mencari pertolongan karena rasa malu atau takut dikucilkan. Untuk itu, peran kader kesehatan di Desa Siaga TB tidak hanya sebatas pemantauan medis, tetapi juga dalam memberikan dukungan sosial dan edukasi guna menghilangkan stigma tersebut di masyarakat.

Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Ahmad Riza Patria, turut menegaskan dukungan pemerintah dalam pemberantasan TB melalui penguatan dana desa. Ia menyebut bahwa dana desa berkisar antara Rp400 juta hingga Rp1 miliar dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan kesehatan utama, termasuk TB dan stunting. “Kami mendorong pemerintah daerah yang belum memiliki program serupa untuk mengusulkan alokasi anggaran,” katanya.

Dengan dukungan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, program Desa Siaga TB diharapkan menjadi garda terdepan dalam memberantas TB di Indonesia. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia bebas TB pada 2030.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Ekonomi
Rupiah Tembus Rp18.000 per ...

PIN SPMB Belum Masuk? Ini Penyebab dan Cara Ceknya

42 menit yang lalu | Andes Tanjung

Megapolitan
PIN SPMB Belum Masuk? Ini P...
Nasional
SBY: Kepercayaan Publik Jad...
Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.