Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Paket Stimulus Harus Memiliki Dampak Berganda ke Perekonomian

📅 Selasa, 03 Jun 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Paket Stimulus Harus Memiliki Dampak Berganda ke Perekonomian Doc: antara
Ket. Stabilitas Perekonomian - Pemerintah Kucurkan Paket Stimulus Senilai Rp24,44 Triliun, Meningkatnya paket insentif dan bantuan sosial menunjukkan bahwa potensi pelemahan ekonomi telah mengancam perekonomian.

JAKARTA - Pemerintah mengucurkan paket stimulus ekonomi senilai 24,44 triliun rupiah guna menjaga daya beli masyarakat serta menstabilkan perekonomian selama libur sekolah yang berlangsung pada Juni hingga Juli 2025.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, saat mengumumkan paket stimulus tersebut di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (2/6), mengatakan paket itu dirancang mencakup lima komponen utama, mulai dari subsidi transportasi hingga bantuan sosial dan ketenagakerjaan.

“Dalam rangka merespons dampak global hari ini, Bapak Presiden memutuskan memberi paket stimulus agar paket pertumbuhan ekonomi dijaga momentumnya dan stabilitas diperkuat,” kata Menkeu.

Menanggapi paket stimulus itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan, meningkatnya paket insentif dan bantuan sosial menunjukkan bahwa potensi pelemahan ekonomi telah mengancam perekonomian, terutama dari sisi pelemahan daya beli konsumen.

“Yang menjadi pertanyaan apakah paket insentif transportasi dan energi mempunyai multiplier yang besar,”tanya Suhartoko.

Dalam situasi daya beli melemah, rumah tangga tentunya akan lebih memprioritaskan kebutuhan primernya dari pada kebutuhan tersier untuk bepergian dengan tujuan non pekerjaan. Dengan demikian insentif untuk transportasi dampak multipliernya sepertinya rendah.

Sedangkan paket insentif energi seperti diskon listrik yang bertujuan meningkatkan pendapatan siap dibelanjakan dan meningkatkan konsumsi mempunyai risiko terjadinya rumah tangga pemborosan dalam mengkonsumsi listrik karena merasa biayanya murah.

Akibatnya biaya penggunaan listrik pada rumah tangga tidak mengalami penurunan, sehingga diskon listrik tidak meningkatkan pendapatan siap dibelanjakan dan peningkatan konsumsi tidak tercapai.

Dalam situasi seperti itu, perbanyak pekerjaan di sektor formal juga lebih sulit, karena pemicu pelemahan ekonomi terbesar adalah daya beli domestik. “Solusinya yang lebih masuk akal adalah intervensi pasar dengan menjual lebih murah dan lebih banyak jenis barangnya.

Namun hal itu membutuhkan dana yang besar jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama,”ungkap Suhartoko.

Respon Panik

Diminta terpisah, ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat mengatakan stimulus yang diklaim untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap di kisaran 5 persen itu terlalu terburu-buru, tidak berbasis perencanaan yang matang, dan berpotensi memperbesar tekanan fiskal negara.

Paket tersebut jelasnya lebih menyerupai respons kebijakan panik ketimbang strategi jangka panjang yang terukur. “Stimulus tanpa kajian yang dalam seperti memasak tanpa resep. Alih-alih menyajikan hidangan lezat, yang terjadi bisa justru kekacauan dapur,” kata Achmad.

Paket insentif yang dirancang pemerintah mencakup diskon tarif transportasi umum, tol, dan listrik, kemudian perluasan bantuan sosial bak subsidi upah maupun perpanjangan diskon iuran jaminan kecelakaan kerja. Seluruh komponen tersebut jelasnya berpotensi menjadi beban serius bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...
Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1 jam lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.