Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

JAFF dan Ambisi Jadikan Horor Indonesia Sebagai Cerminan Budaya Pop

📅 Kamis, 29 Mei 2025, 06:08 WIB | Oleh:
JAFF dan Ambisi Jadikan Horor Indonesia Sebagai Cerminan Budaya Pop Doc: ANTARA News/Ho - tangkapan Instagram
Ket. Ilustrasi Poster film "Danur 3: Sunyaruri" yang dibintangi oleh Prilly Latuconsina.

JAKARTA  - Dalam kancah perfilman Indonesia, salah satu genre yang masih mengukuhkan posisinya di box office dengan kekuatan menarik penonton yang tak terbantahkan adalah horor.

Direktur JAFF Market Linda Gozali dalam konferensi JAFF Market di Jakarta, Rabu, mengatakan, "Di dunia, K-pop adalah 'pop culture', itu merambah luar biasa. Tapi buat Indonesia, horor adalah 'pop culture'."

Film horor Indonesia membuktikan dapat meraih popularitas, baik secara komersial maupun kualitas, seperti film "Pengabdi Setan" dan "Perempuan Tanah Jahanam", bukan hanya mencapai "box office" secara domestik, tetapi juga mendapatkan pujian di berbagai festival film internasional.

Kesuksesan horor tidak terbatas pada medium film saja; industri game juga turut "unjuk gigi" dengan game horor lokal seperti "DreadOut" yang berhasil menarik perhatian gamer internasional.

Itu adalah serangkaian cerita manis tentang horor Indonesia yang tidak hanya mampu membangkitkan rasa takut, tetapi juga menyajikan narasi yang kuat dan karakter yang kompleks, memungkinkan penonton untuk terhubung pada level yang lebih dalam daripada sekadar ketegangan sesaat.

Namun di balik pencapaian yang mengesankan itu, masih bisa diperdebatkan di forum publik apakah horor Indonesia bisa dikategorikan sebagai "pop culture" Indonesia? Padahal film tentang budaya Indonesia itu sendiri ada yang berhasil populer secara global, seperti film silat.

Walaupun Indonesia memiliki banyak film horor berkualitas, film silat dinilai lebih menarik dari segi budaya, terutama setelah kesuksesan film "The Raid".

Strategi investasi

Terlepas dari latar belakang budaya, atmosfer takut akan hal yang tidak diketahui adalah "emosi primal" yang dapat dipahami oleh setiap individu. Ditambah dengan kekayaan folklor Indonesia yang tak terbatas, mulai dari kuntilanak, pocong, sundel bolong, hingga berbagai ritual mistis seperti pesugihan, potensi untuk menciptakan genre horor yang unik dan orisinal sangatlah besar.

Juga keberagaman cerita rakyat menjadi sumber inspirasi tak berujung yang dapat diadaptasi dan dikembangkan menjadi narasi horor yang segar dan berbeda dari horor yang biasa ditemukan di perfilman Barat.

Menurut Linda Gozali, untuk benar-benar mengukir nama di kancah internasional, film horor Indonesia memerlukan strategi terencana yang matang. Ini bukan hanya tentang menciptakan film yang menakutkan, tetapi juga tentang memberikan pengalaman sinematik yang tak terlupakan.

Investasi pada produksi harus ditingkatkan secara signifikan, mencakup penggunaan efek visual dan suara yang lebih canggih, serta sinematografi yang memukau.

Kualitas produksi yang meningkat akan membantu film-film horor Indonesia bersaing dengan standar global dan menarik perhatian audiens yang lebih luas.

Selain itu, pengembangan talenta adalah aspek krusial. Talenta ini mencakup tidak hanya aktor, sutradara, dan penulis skenario, tetapi juga tim di belakang layar seperti sinematografer, penata rias efek, dan penata suara yang ahli dalam menciptakan atmosfer horor yang efektif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Ariana Grande Beri Hibah Bantuan Anak-Anak Gaza

27 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Rona
Ariana Grande Beri Hibah Ba...
Luar Negeri
Tiongkok Merebut Gelar Supe...
Rona
Bernadya Rilis Album Kedua ...
Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

Pemkot Bandung Tertibkan 63 Bangunan Liar di Kawasan Dipati Ukur

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 6
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 6
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.