Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cerita Inovasi Booster Katrili, Pupuk Cair Ekonomis dan Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan

📅 Kamis, 22 Mei 2025, 20:05 WIB | Oleh:
Cerita Inovasi Booster Katrili, Pupuk Cair Ekonomis dan Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan Doc: PGE
Ket. Pemupukan dengan menggunakan booster Katrili, yang dihasilkan dari endapan silika dari fluida panas bumi diolah menggunakan teknologi nano bersama kitosan. Proses ini menghasilkan pupuk cair yang ramah lingkungan dan ekonomis.

JAKARTA – Terletak di kawasan Cincin Api Pasifik, Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi dunia, menjadikannya negara dengan cadangan panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Selama ini, panas bumi dikenal sebagai sumber energi listrik bersih, namun, ternyata panas bumi juga dapat menghasilkan produk sampingan yang menyimpan potensi besar untuk menghidupi sektor lain, yakni pertanian. 

Melihat peluang ini, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berkolaborasi dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengolah silika, salah satu produk sampingan panas bumi, menjadi booster Katrili, yaitu endapan silika dari fluida panas bumi diolah menggunakan teknologi nano bersama kitosan, menghasilkan pupuk cair yang ramah lingkungan dan ekonomis. Inovasi lokal ini dirancang dapat menjadi harapan bagi pertanian berkelanjutan di Indonesia.

“PGE berkomitmen menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama di sekitar wilayah operasi kami. Di Lahendong, di mana banyak warga menggantungkan hidup dari pertanian, kami melihat peluang untuk mengoptimalkan potensi panas bumi menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Hal ini yang mendasari kolaborasi kami dengan UGM dalam mengembangkan pemanfaatan silika, produk sampingan panas bumi, menjadi booster Katrili,” ungkap General Manager PGE Area Lahendong Novi Purwono melalui keterangan tertulis pada hari Kamis (22/5).

Kolaborasi Sejak Lama

 Kerja sama antara PGE dan UGM telah terjalin sejak lama, bahkan sebelum PGE resmi berdiri dan masih bernama Pertamina Divisi Geothermal. Inovasi booster Katrili sendiri dimulai secara tidak sengaja saat pandemi Covid-19 tahun 2020 silam. Pada waktu itu, Ahli Panas Bumi Departemen Teknik

Geologi UGM Ir. Pri Utami, M.Sc., Ph.D., IPM berkunjung Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) PGE dan mengambil sampel hasil produksi panas bumi untuk diuji di laboratorium.



“Setelah saya analisis, ternyata kandungannya sangat banyak. Yang utama tentu saja silika, tetapi ada juga banyak mineral lainnya. Bahkan, sifatnya mirip dengan abu vulkanik. Kemudian saya berpikir, kenapa tidak kita jadikan pupuk saja?” kata Pri Utami.

Ia kemudian menghubungi rekannya dari Fakultas Farmasi UGM, Dr.rer.nat. Ronny Martien, yang merupakan ahli nanoteknologi, untuk membantu mengubah wujud silika dari serbuk putih menjadi booster yang bermanfaat bagi tanaman. Setelah melalui riset mendalam dan berhasil mengembangkan booster Katrili, UGM dan PGE mulai menjalin komunikasi dengan para petani melalui pendekatan partisipatif dan sukarela. PGE juga turut memberikan pembinaan kepada para petani.

“Booster Katrili adalah hal baru bagi para petani, karena cara kerjanya berbeda dari booster, pupuk, atau pestisida yang biasa mereka gunakan. Oleh karena itu, dibutuhkan proses transfer pengetahuan dan keterampilan agar penggunaannya tepat dan efektif. Seperti halnya obat, jika tidak digunakan dengan benar, fungsinya bisa tidak tepat,” ungkap Ahli Teknik konservasi Tanah dan Air Fakultas Teknologi Pertanian UGM Dr. Ngadisih.

Tak hanya di Lahendong, booster Katrili juga disosialisasikan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa UGM di beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti Wonosobo dan Magelang.

Manfaatnya Bagi Petani

Selain silika, booster Katrili juga mengandung kitosan yang berasal dari limbah kulit udang dan kepiting, dipilih karena ketersediaannya yang melimpah di Indonesia. Penggunaan limbah ini tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga memberikan manfaat tambahan berupa perlindungan tanaman melalui kandungan kitosannya.

“Saat dikombinasikan dengan silika, kitosan berperan melapisi permukaan tanaman sehingga lebih tahan terhadap hama dan mampu menyimpan air lebih baik. Sementara itu, silika membantu memperkuat struktur dinding sel tanaman,” kata Pri Utami.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.