Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tak Hanya Lewat Algoritma, AI Juga Pintar Berkonten untuk Pinjol dan Judol

📅 Minggu, 18 Mei 2025, 11:01 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tak Hanya Lewat Algoritma, AI Juga Pintar Berkonten untuk Pinjol dan Judol Doc: The Conversation

La Ode Rifaldi Nedan Prakasa, The University of Western Australia

Fenomena judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) semakin meluas di Indonesia, terutama menjerat masyarakat menengah ke bawah.

Meskipun pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sudah memblokir 5,7 juta konten terkait judol hingga 21 Januari 2025, pengguna judol di Indonesia tetap meningkat. Data teranyar, tercatat ada sekitar 8,8 juta orang terlibat judol dengan perputaran uang mencapai Rp283 triliun hingga semester kedua 2024. Yang lebih memprihatinkan hampir seperempat korban judol berasal dari kaum muda seperti pelajar dan mahasiswa.

Begitu pula dengan pinjol, pada periode Januari-Maret 2025 pemerintah memblokir 1.123 pinjol ilegal. Tapi pinjol ilegal masih berseliweran.

Promosi pinjol dan judol kian marak di media digital, menampilkan figur publik atau influencer —yang acap kali palsu—menjebak pengguna, membuat kedua layanan itu tampak menjanjikan dan membikin penggunanya semakin sulit lepas dari candu.

Sementara itu, Indonesia masih belum memiliki regulasi tegas dan terperinci untuk mengatur penyalahgunaan AI dalam konteks judol dan pinjol. Tak ayal, bisnis pinjol dan judol kian menjamur.

Bagaimana AI menyulut maraknya judol dan pinjol?

Ada dua jenis teknologi AI yang banyak dipakai untuk promosi judol dan pinjol, yakni; algoritma rekomendasi dan deep synthesis dalam bentuk video deepfake.

Algoritma rekomendasi menyasar pengguna potensial judol dan pinjol lewat analisis perilaku digital mereka saat berselancar di media sosial.

Mula-mula, algoritma mengumpulkan data aktivitas online pengguna, seperti riwayat pencarian, konten yang paling sering dilihat, aplikasi yang sering dipakai, sampai lokasi, usia, jenis kelamin, dan data demografi lainnya.

Data dan jejak digital itu direkam oleh sistem. Dengan machine learning, algoritma lalu menganalisis pola perilaku dan preferensi pengguna. Setelah tahu pola dan preferensi, algoritma akan menyajikan iklan yang sudah dipersonalisasi di berbagai platform sosial media yang sering dikunjungi pengguna.

Semakin sering seseorang berinteraksi dengan konten terkait perjudian atau pinjol, semakin besar pula kemungkinan mereka menerima lebih banyak konten serupa. Ini menciptakan efek echo chamber atau ruang gema.

Teknologi AI lainnya yang banyak digunakan untuk promosi pinjol dan judol adalah deep syntesis seperti video deepfake. Deepfake 
bekerja dengan cara meniru wajah dan suara figur publik menggunakan kecerdasan buatan yang dilatih dari data visual dan audio mereka di internet.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Polda Jabar Tangkap Tersang...

Penataan Ruang Publik Menyambut HUT DKI Jakarta

23 menit yang lalu | Fajar Alim M

Megapolitan
Penataan Ruang Publik Menya...
Daerah
Peringatan Hari Keamanan Pa...
Ekonomi
Program SPHP Kedelai Dukung...
Nasional
Pemerintah Perkuat SDM Mela...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.