Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ketidakpatuhan Terhadap Pengobatan Perparah Pasien Gangguan Bipolar dan Skizofrenia

📅 Jumat, 16 Mei 2025, 22:10 WIB | Oleh:

Prof. Tjhin menambahkan, keluarga dan lingkungan sekitar, atau disebut sebagai support system, memiliki peran penting bagi anak dan remaja dengan GB dan Skizofrenia. Dukungan tersebut berdampak langsung pada stabilisasi emosi dan penguatan psikologis yang bermakna, meningkatkan kepatuhan pengobatan, membantu mengurangi stigma negatif dan isolasi sosial, serta mendorong pemulihan sosial dan fungsi akademik anak dan remaja.

Oleh sebab itu, keluarga dan lingkungan sekitar sebagai support system yang pertama, harus mau memperluas pengetahuan dan pemahaman yaitu terus belajar terkait dengan GB dan Skizofrenia pada anak dan remaja.

Mereka diharapkan  mau terlibat langsung dalam manajemen tatalaksana, dan menjadi pengingat agar anak dan remaja bisa berobat dengan teratur, mengkonsumsi obat sesuai dengan aturan yang diberikan, dan menjalani terapi psikososial secara rutin. Begitu pula dengan lingkungan sekitarnya.

“Intinya, penanganannya memang perlu pendekatan eklektik, holistik, dan multidisiplin,” tegas Prof. Tjhin.

Pada kesempatan yang sama, Dr. dr. Khamelia Malik, SpKJ(K), Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa FKUI- RSCM menjelaskan, mirip dengan kondisi pada anak dan remaja, GB dan Skizofrenia pada orang dewasa tentunya akan menurunkan kualitas hidup mereka.

GB pada orang dewasa juga ditandai dengan perubahan ekstrem pada suasana perasaan atau mood, energi, dan tingkat aktivitas, yang sering kali bergantian antara periode mania (atau hipomania) dan depresi atau campuran keduanya. Perubahan suasana hati ini dapat berdampak signifikan pada kemampuan seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari, pekerjaan, dan relasi sosial mereka.

 “Orang dengan Skizofrenia (ODS) juga demikian, pada usia dewasa biasanya mulai muncul antara akhir masa remaja hingga awal usia 30-an, dengan gejala yang bisa meliputi halusinasi, waham atau delusi, dan perubahan perilaku yang tentunya mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan,” ujar dia.

Insidensi GB dan Skizofrenia pada usia dewasa jauh lebih banyak dan lebih disoroti dibandingkan pasien anak dan remaja. Namun pada kenyataannya, meskipun angkanya lebih besar pada usia dewasa, masih banyak pasien dewasa yang sudah didiagnosa dan paham terhadap penyakitnya namun terkendala dalam menjalani terapi jangka panjang sehingga tidak patuh dalam pengobatan.

“Di Indonesia, bisa dikatakan ketidakpatuhan terhadap pengobatan merupakan hal yang umum terjadi pada GB dan Skizofrenia, padahal hal ini diketahui dapat meningkatkan risiko hasil klinis yang buruk. Hal ini merupakan masalah terbesar yang perlu diatasi bidang kejiwaan dan penyakit-penyakit kronis lainnya. Beberapa studi menunjukkan bahwa ketidakpatuhan pengobatan tetap menjadi perhatian penting dalam pengobatan gangguan GB dan Skizofrenia,” jelasnya.

“Pada akhirnya, ketidakpatuhan akan memunculkan konsekuensi yang sangat besar khususnya bagi orang dewasa. Pada GB, ketidakpatuhan dikaitkan dengan tingkat kekambuhan yang lebih tinggi, peningkatan rawat inap, dan risiko bunuh diri yang lebih besar. Untuk Skizofrenia, ketidakpatuhan tidak hanya memperburuk gejala psikotik tetapi juga meningkatkan risiko menyakiti diri sendiri dan orang lain. Temuan ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan untuk mencegah penyulit penyerta dan meningkatkan kualitas hidup bagi individu,” jelas Dr. Khamelia.

Pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap mampu melakukan kegiatan yang produktif serta memiliki kualitas hidup yang baik asalkan mau menjalankan pengobatan dengan konsisten. Optimal dalam kepatuhan terapi dikaitkan secara signifikan dengan kualitas hidup yang lebih tinggi.

Biasanya mereka kurang patuh karena tilikan yang buruk terhadap sakitnya, munculnya efek samping, fluktuasi mood, dan stigma buruk. Terkait efek samping khususnya, masih menjadi tantangan juga di praktik klinis sehari hari.

“Terkadang mereka mengalami efek seperti mengantuk berat sedasi, kenaikan berat badan, dan masalah gerakan tubuh sehingga mereka sulit untuk patuh. Padahal saat ini ada obat-obat inovatif yang meminimalkan efek samping seperti itu,” kata Dr. Khamelia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.