Ketidakpatuhan Terhadap Pengobatan Perparah Pasien Gangguan Bipolar dan Skizofrenia
📅 Jumat, 16 Mei 2025, 22:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
JAKARTA – Kepatuhan (compliance) serta kepedulian (care) memainkan peran yang sangat penting dalam pemulihan pasien gangguan bipolar (GB) dan skizofrenia. Kepatuhan terhadap pengobatan ini bersifat krusial, dan berdampak langsung terhadap perbaikan kondisi pasien.
Namun sayangnya, sampai saat ini di Indonesia, kepatuhan masih menjadi tantangan utama karena adanya stigma negatif pada penyakit dan kemunculan efek samping pada pengobatan. Di pihak lain, kepatuhan memerlukan adanya support system baik dari keluarga maupun lingkungan.
Menurut laporan McLean Hospital, GB dan Skizofrenia merupakan dua jenis kesehatan mental yang berbeda. GB ditandai dengan perubahan suasana hati yang intens antara keadaan depresif yang mendalam dan juga episode mania. Sedangkan Skizofrenia biasanya ditandai oleh gangguan proses pikir, isi pikir dan persepsi psikosis yang dapat mencakup halusinasi, delusi, atau pikiran atau ucapan yang
Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, SubSp A.R. (K), MIMH, Guru Besar Psikiatri Subspesialis Anak dan Remaja FKUI-RSCM dalam presentasi pada acara diskusi “Kepatuhan dan Perawatan, Jalan Menuju Pemulihan bagi Individu dengan Bipolar dan Skizofrenia,” pada hari Rabu (14/5) mengatakan, gangguan kesehatan mental seperti GB dan Skizofrenia, yang dulunya dianggap hanya menyerang orang dewasa, kini juga memengaruhi anak- anak dan remaja dengan tingkat yang mengkhawatirkan.
“Beberapa studi dan pengalaman di meja praktek memperlihatkan bahwa kasus yang muncul lebih awal atau early-onset terjadi di usia yang lebih muda, dan sering kali tidak terdiagnosis karena kurangnya kesadaran atau salah mengartikan gejala sebagai perilaku remaja yang umum. Kondisi kesehatan mental seperti ini bisa mengganggu perkembangan, pendidikan, dan hubungan remaja jika tidak diobati dengan tepat,” ucapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menerangkan, GB terjadi karena beberapa faktor risiko seperti genetik, lingkungan, neurobiologis, dan psikososial. Beberapa gejala yang bisa dikenali seperti episode mania atau suasana emosi mudah marah, episode depresi atau suasana sedih mendalam dan keinginan bunuh diri, dan campuran antara keduanya.
“Sedangkan Skizofrenia memiliki faktor risiko seperti genetik, perinatal atau komplikasi sejak lahir, lingkungan, dan neurodevelopmental atau kelainan struktur otak. Beberapa gejalanya seperti gejala positif (halusinasi, delusi), gejala negatif (kurang motivasi dan cenderung datar), dan disorganisasi (bicara tidak koheren dan perilaku tidak sesuai konteks),” jelas Prof. Tjhin.
Diagnosis dan intervensi dini sangat penting untuk meningkatkan hasil pengobatan, namun kompleksitas kasus yang muncul pada tahap awal sering kali menyebabkan keterlambatan deteksi dan penanganan. Beberapa hambatan dan tantangan dalam penanganan GB dan Skizofrenia pada anak dan remaja mencakup: gejala yang bertumpang tindih dengan gejala dari gangguan mental lainnya seperti gejala ADHD, autisme, dan kadang dianggap sebagai perilaku anak yang wajar padahal sudah menunjukkan tanda awal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hambatan komunikasi anak yang mungkin kurang mampu mengekspresikan apa yang dirasakan atau dipikirkan, kurangnya studi dan manajemen yang baku khusus untuk anak dan remaja, ketidakpatuhan terhadap pengobatan, hingga stigma orang tua dan masyarakat yang merasa gangguan mental masih tabu sehingga cenderung menyangkal atau menyembunyikan kondisi tersebut.
Prof Tjhin kembali menjelaskan, bahwa GB ataupun Skizofrenia pada anak-anak dan remaja adalah kondisi kronis. Namun, meskipun demikian dengan perawatan yang efektif seperti tatalaksana komprehensif yang tepat dan sesuai, tentu dapat membantu untuk mengatasi gejala, serta meningkatkan kualitas hidup anak dan remaja secara signifikan.
“Dengan penanganan yang tepat, anak dan remaja dapat belajar mengelola perubahan suasana perasaan mereka agar bisa menjadi pulih dan menjalani kehidupan yang tetap produktif di tengah masyarakat,” katanya.
Oleh sebab itu, peran kepatuhan dan berobat secara optimal dalam pemulihan pasien anak dan remaja dengan GB maupun Skizofrenia sangat krusial dan berdampak langsung terhadap prognosis jangka panjang, stabilitas kondisi, dan kualitas hidup. Mereka yang patuh umumnya jarang mengalami kekambuhan, bisa memperbaiki hubungan sosial, mengikuti pendidikan secara normal, dan lebih konsisten dalam menjalani tugas tanggung jawabnya sebagai anak atau remaja.
“Namun, tantangan utama dalam penanganan kasus-kasus GB dan Skizofrenia sampai saat ini adalah ‘kepatuhan berobat’ dan ‘tatalaksana yang optimal’ karena di Indonesia masih banyak orang yang takut terhadap stigma buruk, literasi kesehatan jiwa yang kurang, serta kekhawatiran pengaruh obat jangka panjang terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak dan remaja,” terang Prof. Tjhin.
Dukungan Support System
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!