Ketidakpatuhan Terhadap Pengobatan Perparah Pasien Gangguan Bipolar dan Skizofrenia
📅 Jumat, 16 Mei 2025, 22:10 WIB | Oleh: Haryo BronoIa juga menambahkan, selain dari kepatuhan, pasien dewasa GB dan Skizofrenia tetap bisa beraktivitas produktif jika fokus terhadap strategi coping yang adaptif, seperti mencari dukungan dan belajar strategi memecahkan masalah, pelatihan manajemen stress, dan lain-lain.
Berikutnya, bisa aktif melakukan terapi psikososial seperti edukasi terhadap penyakit, skrining rutin terhadap kemunculan ide untuk bunuh diri, juga bisa menggunakan teknologi seperti aplikasi untuk pemantauan mood, kualitas tidur, reminder obat, dan psikoterapi agar selalu stabil. Dengan begitu, pasien dewasa akan bisa menjalani aktivitas dengan lebih baik,” jelasnya.
Untuk keberhasilan pengobatan, tergantung juga pada dukungan keluarga dan lingkungan. “Psikoedukasi pada keluarga dan lingkungan dapat membantu keluarga memahami dan mendukung orang yang mereka cintai dengan lebih baik. Dukungan ini berfungsi untuk meningkatkan harapan dan mendukung kemampuan pasien, pemberdayaan pribadi, dan inklusi di lingkungan sosial,” tambahnya.
Country Group Head Wellesta CPI Hanadi Setiarto, menyatakan, sebagai perusahaan yang fokus pada bidang kesehatan dan teknologi medis, Wellesta berkomitmen terhadap kesehatan dan kualitas hidup pasien, termasuk untuk pasien depresi dengan GB I dan Skizofrenia. Sangat penting meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terkait kondisi penyakit mental yang terkadang tidak disadari.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami menyadari, jika tidak diatasi dengan baik, kejadian depresi dengan GB I dan Skizofrenia akan terus bertambah sehingga ke depannya akan menurunkan kualitas hidup, peningkatan mortalitas dini, hingga berkontribusi pada penyakit fisik seperti kardiovaskular, metabolik, dan infeksi,” paparnya.
Untuk mewujudkan komitmen perusahaan tersebut, pihaknya bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam membantu individu dengan GB I dan Skizofrenia.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu meningkat awareness masyarakat sehingga mereka memahami gejala awal, memberikan dukungan kepada individu tersebut, dan ke depannya mereka mengetahui kepada siapa mencari bantuan yang tepat dan mencegah disabilitas jangka panjang,” jelas Hanadi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!