KKP-FAO Sosialisasikan Aplikasi Pelaporan Penyakit Ikan di Jambi
📅 Kamis, 15 Mei 2025, 23:15 WIB | Oleh: Ones
Doc: Antara
Jambi - Pemerintah Provinsi Jambi bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menggelar sosialisasi sistem cepat pelaporan penyakit ikan berbasis Android, bagi pembudidaya ikan dan penyuluh di Kabupaten Batanghari.
"Pengendalian penyakit ikan yang lebih efisien dengan aplikasi Sicekatan diharapkan dapat meminimalisir kerugian secara ekonomi serta meningkatkan produksi ikan budidaya di Jambi,"kata Wakil Gubernur Jambi Abdullah Sani di Desa Teluk Ketapang, Batanghari, Kamis.
Ia mengatakan, Sicekatan merupakan sistem berbasis digital untuk pelaporan penyakit ikan, hasil kerja sama KKP dan FAO dalam Technical Cooperation Programme (TCP) yang berjalan sejak 2023.
Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya ikan dan penyuluh perikanan dalam pencegahan dan penanganan dengan cepat masuknya dan penyebaran penyakit ikan, khususnya pada jenis patin dan nila.
Melalui aplikasi Sicekatan, kata dia, pembudidaya ikan dapat melaporkan dan mendokumentasikan gejala penyakit ikan pada kolam budidaya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, bisa lebih mudah dan mendapatkan saran penanganan dengan cepat dan tepat dari gugus tugas tanggap darurat penyakit ikan.
Aplikasi ini telah tersedia di Play Store sejak April 2025. Sebelumnya, pelatihan penggunaan aplikasi ini telah diberikan kepada perwakilan pembudidaya, penyuluh dan anggota satuan gugus tugas di tingkat Provinsi Jambi.
Guna memastikan pemanfaatan Sicekatan secara lebih luas, sosialisasi melibatkan kelompok pembudidaya ikan Harapan Maju di Desa Teluk Ketapang serta penyuluh perikanan, petugas Pos Pelayanan Kesehatan Ikan Terpadu (Posikandu), serta anggota tim gugus tugas tanggap darurat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam simulasi penggunaan aplikasi dan diskusi penanganan penyakit ikan melibatkan berbagai unsur.
Provinsi Jambi yang dilalui oleh Sungai Batang Hari, sungai terpanjang di pulau Sumatera, memiliki potensi besar dalam budidaya ikan.
Provinsi ini menghasilkan setidaknya memproduksi 20.000 ton ikan patin pada 2023 berdasarkan data KKP.
Namun, wabah penyakit ikan berisiko menghambat pengembangan potensi ini. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah untuk percepatan target swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.
Kepala Perwakilan FAO di Indonesia - Timor Leste Rajendra Arya mengatakan, program ini tidak hanya digitalisasi sistem pengendalian penyakit ikan.
Namun proyek kerja sama TCP KKP dan FAO telah melatih pembudidaya ikan dan petugas lapangan terkait resistensi antimikroba (AMR), serta tanggap darurat dan perencanaan kontinjensi untuk penyakit ikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!