Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Produksi Naik Tajam, Impor Pangan Harus Dihentikan? Ini Sinyal Tegasnya

📅 Jumat, 09 Mei 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Produksi Naik Tajam, Impor Pangan Harus Dihentikan? Ini Sinyal Tegasnya Doc: Koran Jakarta/Wahyu AP
Ket. Pacu produksi pertanian - Petani menanam bibit padi di area persawahan Rorotan, Jakarta, Kamis (8/5). Pemerintah mengalokasikan anggaran ketahanan pangan lebih dari 155 triliun rupiah pada 2025 untuk mendorong produktivitas pertanian dan perikanan

JAKARTA - Pemerintah menyebutkan terjadi surplus produksi beras sejumlah 3,3 juta ton. Ironisnya, capaian tersebut masih disangsikan realitanya di lapangan.

Angka surplus tersebut harus dikonkretkan dengan tidak mengimpor beras tahun ini. Jangan sampai pada akhir tahuntiba tiba ada impor.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan, apabila produksi meningkat maka kebijakan pendukung harus disiapkan, termasuk menghentikan impor pangan. Sebab, impor tersebut bisa menggerus cadangan devisa dan menganggu pertumbunan ekonomi.

Produksi, terangnya, harus terus ditingkatkan sebab setiap orang butuh makan jadi lebih baik berlebih produksi pangan, kelebihan produksi bisa diekspor. Prospeknya bagus karena setiap orang butuh makan setiap hari. "Jangan menggantungkan nasib (perut) kita ke negara lain," tandasnya kepada Koran Jakarta, Kamis (8/5).

Esther menegaskan pangan sangat penting sehingga perlu menjaga stabilitas harga pangan karena rakyat lapar maka potensi krisis tidak hanya terjadi instabilitas ekonomi tapi juga instabilitas politik

Untuk bisa mendorong produksi pangan, lanjutnya, dibutuhkan kebijakan yang terintegrasi. Artinya tidak hanya kementerian pertanian yang bertanggung jawab melainkan juga kementerian lain seperti Kementerian Keuangan untuk memberi insentif fiskal Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk penyiapan infrastruktur.

Dijelaskannya, momentum kunjungan dan kerja sama dengan Bill Gates ujarnya harus dimanfaatkan untuk mendorong produksi pangan domestik. Kerja sama itu meliputi, riset dan pengembangan, pembangunan infrastruktur pertanian, pembiayaan yang murah agar petani lebih mudah mengakses modal, dan pengembangan pemasaran.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2025 mencapai 4,87 persen yang dihitung berdasarkan tahunan atau year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini di antaranya ditopang oleh kenaikan produksi dan juga stabilitas harga bahan pokok terutama selama bulan puasa dan Idul Fitri 2025.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas harga baik sebelum Puasa maupun pasca-Lebaran 2025. Menurut Arief, salah satu kebijakannya adalah menugasi Perum Bulog dalam melakukan penyerapan gabah sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yaitu sebesar 6.500 rupiah per kilogram (kg).

Intervensi Pemerintah

Arief mengatakan, intervensi pemerintah sebagai bentuk penyaluran stok Cadangan Pangan Pemerintah, melalui Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP terbukti telah memberi kontribusi pada ketahanan ekonomi bangsa. Selain itu, Bapanas juga sebelumnya melakukan intervensi melalui bantuan pangan pemerintah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah.

Ditambahkan Arief, Bapanas juga selalu updating neraca pangan pokok strategis. Untuk produksi versus konsumsi beras, sesuai forecast Januari hingga Juni nanti, diperkirakan surplus 3,33 juta ton. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, surplusnya meningkat 128,08 persen atau bertambah 1,87 juta ton dari surplus 2024 yang 1,46 juta ton.

Arief juga mengungkapkan stabilitas dan terjaganya pasokan pangan membuat harga dan inflasi semakin terkendali. Dampak lainya adalah pemerintah mampu menjaga daya beli masyarakat secara merata di seluruh Indonesia.

Terpisah, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa harga yang stabil sebagain besar ditopang oleh serapan beras yang baik. Selain itu, stabilitas juga ditopang dengan permintaan domestik yang cukup meningkat seperti pada komoditas daging dan telur.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

PSG Gandeng Google, Gemini Resmi Jadi Asisten AI Klub

11 menit yang lalu | Benny Mudesta Putra

Olahraga
PSG Gandeng Google, Gemini ...

Tren Mendaki "Tek Tok" Makan Korban, Malaysia Larang Jalur Berisiko

17 menit yang lalu | Selocahyo Basoeki Utomo S

Luar Negeri
Tren Mendaki "Tek Tok" Maka...
Luar Negeri
Kenapa Ada Kebijakan Baru I...
Olahraga
Ini Klasemen Grup A Piala A...
Luar Negeri
Semoga Tidak Ada Korban Jiw...
Ekonomi
Diversifikasi Ekspor Jadi K...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.