Kadin: Perlu Keseimbangan Perdagangan dengan AS
📅 Jumat, 09 Mei 2025, 01:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengatakan perdagangan bilateral yang seimbang dengan Amerika Serikat (AS) penting demi mendorong produksi dan penjualan produk-produk dari industri padat karya.
"Kalau benar kita bisa mencari jalan untuk membuat trade yang menjadi seimbang dengan Amerika Serikat, tentu kita ingin menjual lebih banyak lagi produk-produk yang padat modal industrinya," kata Anindya di Jakarta, Kamis (8/5).
Seperti dikutip dari Antara, Anindya juga menyampaikan bahwa perdagangan bilateral harus dilihat dari perspektif yang lebih luas, mencakup sektor-sektor strategis seperti mineral, kesehatan, hingga teknologi.
"Seperti tentunya alas kaki, garmen, elektronik, karet, dan lain-lain. Tapi sebaliknya dari Amerika Serikat bisa menyediakan protein dari misalnya kedelai, dari juga susu, dari daging," ujar dia.
Anindya menargetkan total nilai perdagangan Indonesia-AS dapat meningkat dari 40 miliar dollar AS menjadi 80 miliar dollar AS dalam dua tahun mendatang.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Artinya, akan lebih banyak lapangan kerja yang tercipta. Saat ini ada 2,1 juta orang yang terlibat di tiga sektor utama (yaitu) alas kaki, garmen, dan elektronik. Kalau ini bisa tumbuh dua hingga tiga kali lipat, kita bisa menambah 200 hingga 400 ribu pekerja lagi," katanya.
Lebih jauh, Anindya juga menyinggung soal tantangan global seperti tarif perdagangan. Ia menyatakan bahwa kebijakan tersebut berada di ranah pemerintah, tapi Indonesia telah menyiapkan strategi diplomatik yang konstruktif.
"Mereka (AS) suka bahwa pemerintah Indonesia ingin memberikan satu cara yang baik, yaitu diplomasi, bukan retaliasi. Lalu berpikir juga bagaimana bisa mengalihkan tentunya impor daripada migas dari negara lain ke Amerika Serikat," kata Anindya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia pun menegaskan pentingnya investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, di mana pada tahun 2024, Indonesia menerima investasi senilai 100 miliar dollar AS, di mana setengahnya dari luar negeri.
"Kalau kita ingin terus berkembang (pertumbuhan ekonomi) mencapai 8 persen, jumlahnya itu harus terus ditambah," ujar Anindya.
Biaya Produksi
Sementara itu, Ketua Komite Tetap Kebijakan dan Regulasi Industri Kadin Veri Anggrijono berharap pemerintah menjamin ketersediaan bahan baku utama tekstil di tengah gempuran produk tekstil luar negeri.
Bahan baku utama tekstil tersebut berupa produk Benang Partially Oriented Yarn (POY) dan Drawn Textured Yarn (DTY).
"Karena saat ini ketersediaan benang POY dan DTY dalam negeri sangat terbatas jadi para pelaku industri TPT harus mengimpor dari luar negeri," kata Veri di Jakarta.
Ia menuturkan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) berpotensi terancam mengalami kebangkrutan dan menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!