Perpustakaan Daerah Natuna Tumbuhkan Literasi di Ujung Negeri
📅 Kamis, 08 Mei 2025, 22:32 WIB | Oleh: Deri HenriawanDi sinilah perjuangan dimulai. Anak-anak dari kelas III SD duduk melingkar, menyimak petugas pustaka yang membacakan kisah. Tapi kegiatan tak berhenti di situ. Mereka diminta berdiri, satu per satu, dan mengisahkan kembali cerita yang baru saja mereka dengar.
Tangan mungil gemetar, suara lirih di awal, tapi ketika teman-temannya mendengar, wajah mereka mulai bersinar. Seolah berkata, aku bisa.
Sasaran program ini adalah agar anak-anak bukan sekadar jadi pendengar, namun juga penjaga cerita. Mereka belajar bahwa kisah bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dihidupkan, dibagikan, dan diwariskan.
Sementara itu, bagi siswa yang lebih besar dari kelas IV SD hingga tingkat menengah tugas mereka lebih menantang. Mereka memilih sendiri buku yang disukai, membacanya, lalu menceritakan kembali isinya di hadapan teman-teman. Yang berani tampil mendapat sagu hati. Mungkin hanya sebuah pena, stiker, atau buku tulis. Namun sesungguhnya, yang mereka bawa pulang jauh lebih berharga yaitu keberanian, percaya diri, dan imajinasi yang tak lagi mengenal batas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Itulah mimpi yang diperjuangkan oleh Disperpusip Natuna. Di tengah keterbatasan anggaran dan jauhnya jangkauan, mereka tetap bergerak. Karena mereka percaya, setiap anak berhak mendengar dan menyuarakan cerita di mana pun mereka tinggal.
Karena di ujung negeri ini, di dalam dada kecil para pendongeng cilik itu, harapan tak pernah padam. Dan di balik mobil perpustakaan yang sederhana itu, ada semangat besar yang terus menyala menumbuhkan literasi, satu cerita dalam satu langkah kecil yang penuh makna.
Tak berhenti di sana, gerakan literasi ini diperluas oleh jembatan yang menakjubkan yaitu kerja sama dengan Ikatan Pemuda dan Mahasiswa (IPM) Natuna, anak-anak pulau yang sedang belajar di luar daerah. Mereka mengirimkan karya ilmiah mereka, berupa skripsi, tesis, hingga disertasi, ini merupakan sebuah persembahan intelektual untuk kampung halaman. Ongkos kirim ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten. Karena mereka tahu, setiap lembar pengetahuan yang dikirim, adalah benih masa depan yang ditanam kembali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Warga Natuna Nunung Rozalina menilai upaya yang dilakukan oleh Disperpusip Natuna merupakan langkah memperbaiki sumber daya manusia (SDM), untuk mengapai Indonesia Emas 2045.
Hingga 2025, 30 karya telah menjadi bagian dari koleksi Perpustakaan Idrus M Tahar. Setiap buku bukan hanya referensi, tapi surat cinta dari anak-anak rantau kepada tanah kelahirannya. Dalam sunyi rak buku itu, ada suara Kami Pulang Lewat Ilmu.
Program ini tidak megah dari porsi anggaran, tapi dampaknya bisa merubah masa depan wilayah perbatasan, Disperpusip percaya Efisiensi bukan hambatan, ia justru tantangan bagaimana semua bisa tetap bergerak, meski dengan sumber daya yang terbatas, mereka sudah lama belajar dari keterbatasan untuk melahirkan kreativitas.
Dan begitulah, di ujung negeri ini, huruf-huruf hidup. Buku-buku berbicara. Anak-anak berani bermimpi. Bukan dengan sorak sorai, bukan dalam sorotan kamera. Tapi dalam kesunyian yang menakjubkan. Dalam gerakan sunyi yang perlahan menyalakan cahaya dari rak buku, hingga ke hati. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!