SWI dan IPR Luncurkan Studi Indeks Daur Ulang Plastik Sebagai Dasar Pengambilan Kebijakan Berkelanjutan
📅 Kamis, 01 Mei 2025, 00:20 WIB | Oleh: Haryo BronoMenurut Ade, untuk mencapai target ambisius tersebut, telah disiapkan berbagai strategi pengurangan dan penanganan sampah, seperti mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam sistem daur ulang serta mendorong produsen untuk menerapkan Extended Producer Responsibility (EPR). Tentunya, target ini tidak akan tercapai tanpa dukungan dari seluruh sektor.
Inisiatif pengelolaan sampah telah berkembang di berbagai sektor, namun diperlukan kolaborasi dan sinergi lintas lembaga dan sektor untuk mengintegrasikan seluruh upaya tersebut dalam bentuk konkret. Beberapa diantaranya adalah keterbukaan data dan insentif kebijakan, baik fiskal maupun regulasi, yang akan sangat menentukan kemajuan industri daur ulang.
Diskusi ini juga turut dihadiri beberapa perwakilan dari industri yang menghasilkan produk dengan kemasan berbahan plastik, di antaranya Unilever Indonesia, Nestle Indonesia dan Aqua. Ketiganya menegaskan komitmennya untuk mengambil peran aktif dalam menangani sampah plastik di seluruh rantai bisnisnya.
Head of Division Environment & Sustainability Unilever Indonesia Foundation Maya Tamimi menyampaikan bahwa Perusahaan terus berkomitmen untuk mengambil peran aktif dalam menangani sampah plastik di seluruh rantai nilai bisnisnya. Unilever Indonesia memiliki fokus yang kuat, jelas, terukur, dan sejalan dengan program pemerintah dalam hal pengurangan serta pengelolaan sampah plastik.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pada tahun 2024, Unilever Indonesia telah mengumpulkan dan mengelola 90,000 ton sampah plastik, lebih banyak dari yang digunakan untuk menjual produk- produknya. Upaya ini dicapai melalui jaringan bank sampah binaan, pengepul, TPS3R, dan Refuse- Derived Fuel (RDF). “Kami percaya kolaborasi adalah kunci menuju masa depan yang bebas sampah,” ungkapnya.
Sustainability Delivery Lead Nestle Indonesia Maruli Sitompul menyampaikan, langkah- langkah konkret yang telah diambil perusahaan, seperti penggunaan sedotan kertas di seluruh RTD (ready-to-drink) dan mendesain kemasan menjadi kemasan daur ulang (monomaterial packaging).
Selain itu Nestle Indonesia juga melakukan pengumpulan sampah plastik sejumlah kemasan plastik yang mereka produksi/pakai. Untuk ini, perusahaan bekerja dengan para pengepul, pendaur ulang, dan TPS3R.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nestle Indonesia juga mendukung infrastruktur pengelolaan sampah dengan 10 MRF/TPS3R di Karawang melalui kolaborasi dengan KSM Sahabat Lingkungan dan pemerintah lokal. TPS3R ini mampu melayani hingga 6,000 rumah tangga di sekitar Karawang.
“Nestle Indonesia terus mengupayakan untuk mencari solusi kemasan yang berkelanjutan. Kami percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, keberlanjutan dan keamanan produk bisa berjalan seiring. Untuk itu diperlukan dukungan dan kolaborasi dari semua pihak seperti private sector, pemerintah, dan masyarakat,” ujar Maruli.
Di kesempatan yang sama, , Public Affairs and Sustainability Director Aqua, Astri Wahyuni menyampaikan bahwa ekosistem daur ulang di Indonesia terus berkembang di tengah tantangan seperti kualitas input dari sampah tercampur, harga produk RPET yang masih tinggi, dan kebutuhan insentif bagi pelaku.
“Saat ini, 75 persen produk Aqua sudah sirkular melalui galon guna ulang, lebih dari 96 persen kemasan dapat didaur ulang, dan seluruh produk mengandung hingga 25 persen material daur ulang. Aqua juga membangun berbagai infrastruktur daur ulang, mulai dari bank sampah hingga Recycling Business Unit (RBU),” ucapnya.
“Sebagai inovator kemasan 100 persen rPET melalui Aqua Life sejak 2018, kami berharap pemerintah menyiapkan kebijakan yang memperkuat Solusi sistemik dan menjamin kesempatan yang sama bagi pelaku industri daur ulang di Indonesia,” tambah Astri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!