Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Petani Karawang Tekan Biaya Produksi dengan Pupuk Organik Hewani

📅 Rabu, 30 Apr 2025, 11:20 WIB | Oleh:
Petani Karawang Tekan Biaya Produksi dengan Pupuk Organik Hewani Doc: Antara Foto
Ket. Seorang petani di wilayah Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat berhasil menurunkan biaya produksi padi hingga kurang dari Rp5 juta setelah menerapkan pupuk organik hewani yang dihasilkan dari peternakan sendiri.

Seorang petani di wilayah Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat berhasil menurunkan biaya produksi padi hingga kurang dari Rp5 juta setelah menerapkan pupuk organik hewani yang dihasilkan dari peternakan sendiri. 

"Biaya produksi padi per hektare itu biasanya sekitar Rp10-12 juta per hektare, tapi jadi berkurang, di bawah Rp5 juta," kata Sri Darmono Susilo, petani yang menerapkan pupuk organik hewani, di Karawang, Rabu. 

Ia mengaku sudah lama menerapkan pupuk organik hewani, tepatnya sejak tahun 1993, meski diakui ada proses panjang dalam penerapan pupuk organik hewani itu. 

Disebutkan, hasil dari penerapan pupuk organik hewani ini cukup terasa. Di antaranya terjadi pengurangan biaya produksi padi per hektare. 

Hasil lain yang diperoleh dengan penerapan pupuk organik hewani ini ialah produksi padi mengalami peningkatan, karena kondisi tanah sawah menjadi subur. 

Dari sebelumnya hanya bisa memproduksi atau memanen padi 2-3 ton per hektare, terus meningkat menjadi 5 ton, dan kini bisa mencapai lebih dari 6 ton. 

"Sekarang kita panen rata-rata di atas 6 ton gabah kering panen per hektare. Bahkan pernah sampai menembus 21 ton gabah per hektare, itu terjadi saat ada pendampingan dari PT Pupuk Kujang," katanya. 

Saat ini, ia mengelola 100 ekor sapi, 400 ekor kambing, dan 120 hektare lahan sawah. Pupuk yang digunakan berasal dari kotoran sapi yang sudah difermentasi dengan bakteri.

Kotoran dari ratusan ekor sapi dan kambing itu dikelola menjadi pupuk organik cair di kandang. Kemudian pupuk organik cair tersebut dialirkan ke pipa yang mengarah ke areal sawahnya. 

Jadi dalam prosesnya, pupuk atau kotoran hewan yang berasal dari kandang sapi itu tidak langsung digunakan. Namun harus difermentasi. Sehingga di sekitar kandang harus ada kolam. 

Kolam itu berfungsi untuk menampung pupuk cair yang berasal dari kandang sapi. Sehingga saat diperlukan waktu pemupukan, bisa langsung dialirkan ke areal sawah, sesuai dengan kebutuhan jumlah areal sawah. 

Menurut dia, cukup banyak manfaat jika menerapkan pupuk organik hewani tersebut. Selain bisa meningkatkan produktivitas dan mengurangi biaya produksi, juga bisa mengurangi serangan hama. 

Dengan bantuan masyarakat yang percaya kepadanya, usahanya menerapkan pupuk organik hewani kini berkembang pesat. Kini ada sejumlah petani dengan total luas lahan sekitar 70 hektare yang memanfaatkan penerapan pupuk organik hewani yang dikelola. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Putri KW Sukses Menembus Babak 8 Besar

17 detik yang lalu | Fajar Alim M

Olahraga
Putri KW Sukses Menembus Ba...

Sabar/Reza Amankan Tiket Babak 8 Besar

17 detik yang lalu | Fajar Alim M

Olahraga
Sabar/Reza Amankan Tiket Ba...
Ekonomi
Rupiah Sentuh Level Terenda...

Jakarta Fair Akan Berlangsung Lebih Lama

1 jam lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Jakarta Fair Akan Berlangsu...
Megapolitan
Jakarta Model Percontohan P...
Megapolitan
Pelatihan untuk Tekan Penga...
Nasional
Dinamika Atmosfer Picu Banj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
WHO: Makanan Tercemar Tewaskan 1,5 Juta Penduduk Setiap Tahun

WHO: Makanan Tercemar Tewaskan 1,5 Juta Penduduk Setiap Tahun

05 Jun 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.