Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kritikan AS Momentum Benahi Industri dan Tingkatkan Produksi Dalam Negeri

📅 Kamis, 24 Apr 2025, 01:45 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kritikan AS Momentum Benahi Industri dan Tingkatkan Produksi Dalam Negeri Doc: istimewa
Ket. Deregulasi Tata Niaga I Praktik Maklon Sebenarnya Penghinaan Bagi RI

JAKARTA - Pemerintah, DPR dan akademisi diminta bersikap lebih bijak dan positif menanggapi kritikan Pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait dengan berbagai kebijakan Indonesia di bidang industri dan perdagangan yang mereka nilai tidak fair.

Beberapa catatan yang disampaikan Kantor Perwakilan Dagang AS, United States Trade Representative (USTR) seharusnya jangan dilihat semata sebagai intervensi kepentingan nasional, tetapi harus digunakan kesempatan itu untuk membenahi masalah di dalam negeri.

Peneliti Pusat Riset Pengabdian Masyarakat (PRPM) Institut Shanti Buana, Bengkayang, Kalimantan Barat, Siprianus Jewarut mengatakan jika ada permintaan syarat dari mereka untuk meninjau kembali pengenaan tarif impor barang asal Indonesia, sebaiknya jangan dikonfrontasikan. “Kalau mereka meminta kita membenahi sistem perdagangan, sudah pasti ada kepentingan mereka di situ, tapi gunakan kesempatan ini untuk membenahi masalah kita,” kata Siprianus.

 Salah satu yang mereka pemasalahkan adalah angka ekspor Indonesia yang tinggi, tetapi realisasinya bodong. Sebab, yang terjadi adalah barang-barang yang kita ekspor ke AS itu berasal dari praktik maklon atau lebih dikenal sebagai proses manufaktur kustom. Sebuah praktik di mana perusahaan mempercayakan produksi barang kepada produsen atau pihak ketiga. Praktik maklon kata Siprianus sebenarnya penghinaan bagi Bangsa Indonesia, karena hanya dipakai atau pinjam nama untuk bohong seolah-olah itu produksi Indonesia, padahal sebenarnya itu produk negara lain misalnya Tiongkok. “Kita dipakai untuk bohong dan AS tahu itu bohong. Kita baru melek setelah ‘dihukum’ AS.

Korea Selatan pun melakukan hal yang sama dengan menghukum ekspor palsu karena merugikan ekonomi dalam negeri mereka. Korsel mencatat sebagai ekspor, tidak tahunya barang itu milik Tiongkok,” jelas Siprianus. Maka dari itu, Korea Selatan pun sadar karena selama ini merasa dimanfaatkan Tiongkok, tetapi akibatnya industri mereka yang dihukum AS dengan menaikkan tarif barang impor.

 Kalau jeli, Indonesia harusnya sadar kalau selama ini dimanfaatkan. Seperti dikutip dari Tech in Asia, badan bea cukai Korea Selatan melaporkan peningkatan produk asing yang disalahartikan sebagai ekspor Korea Selatan untuk menghindari tarif AS, khususnya yang melibatkan barang-barang dari Tiongkok.

Pada Q1 2025, layanan Bea Cukai Korea mengidentifikasi pelanggaran asal senilai 29,5 miliar won (20,8 juta dolar AS), dengan 97 persen dari pengiriman ini ditujukan ke AS. Jumlah ini mendekati total pelanggaran sebesar 34,8 miliar won (24,5 juta dolar AS) yang tercatat sepanjang tahun 2024, di mana pengiriman menuju AS merupakan 62 persen dari total.

Kritik Bukan dari AS Saja

Menanggapi sorotan Presiden Trump soal Mangga Dua sebagai lokasi penjualan barang bajakan, Siprianus menilai teguran Trump itu wajar karena AS banyak dirugikan. Siprianus mencontohkan, misalnya di Pasar Mangga Dua Jakarta, banyak menjual batik printing asal Tiongkok dan laris karena murah dan kualitasnya baik tentu akan membuat Indonesia marah. Begitu juga dengan AS, kalau barangnya dipalsukan tentu mereka marah.

Momentum saat ini katanya harus dimanfaatkan untuk membenahi dan membuat produk yang murni buatan Indonesia, dikerjakan oleh pekerja Indonesia, dan benar-benar riil menjadi pendapatan nasional. 

“Kita harus membuktikan permintaan AS itu menjadi sesuatu yang positif. Kalau hanya marah, ya membodohi diri sendiri, harusnya melihat sisi positifnya,” kata Siprianus. Sementara itu, pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik/Dosen FEB UPN Veteran Jakarta, Freesca Syafitri mengatakan perkembangan perdagangan terkini dapat menjadi titik balik bagi Indonesia untuk memperkuat struktur industrinya.

“Tren dagang saat ini ini bisa menjadi momentum kebangkitan industri dalam negeri, asalkan didukung oleh kebijakan afirmatif seperti subsidi bahan baku, peningkatan kualitas produk, dan kemudahan perizinan bagi pelaku UMKM dan industri kecil menengah,” kata Freesca. Secara terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengatakan kritik sebenarnya tidak hanya datang dari AS tetapi juga dari beberapa negara.

Beberapa hal yang memang harus diperbaiki terutama dalam tata kelola birokrasi seperti pengurusan investasi, impor, klaim insentif fiskal dan lainnya, sehingga tidak heran jika dibandingkan Vietnam, Indonesia masih kurang efisien. Prinsipnya kata Esther, Pemerintah harus mendesain kebijakan strategis yang selalu lebih baik dan harus mau beradaptasi dengan perubahan zaman yang mengarah ke transapransi dan tata kelola yang baik. Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa sepakat dengan masukan konstruktif dari AS karena mereka sebagai negara demokrasi yang mengedepankan tata kelola yang baik, akuntabel, transparan, dan bebas dari KKN.

 “Pilar demokrasi ekonomi itu diantaranya kepentingan nasional, perdagangan internasional yang adil, dan perlindungan terhadap ekonomi rakyat,” kata Awan. Senada dengan Awan, Peneliti dari Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID) Jakarta, Nazar el Mahfudzi mengatakan kritik Pemerintah AS terkait berbagai hambatan perdagangan di Indonesia tidak seharusnya dibaca sebagai intervensi semata, melainkan sebagai alarm penting bagi perbaikan sistem khususnya transparansi birokrasi dan demokrasi ekonomi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.