Ketidakpastian Regulasi Hambat RI Jadi Pemain Kunci Kendaraan Listrik Global
📅 Rabu, 23 Apr 2025, 10:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA-Keputusan konsorsium yang dipimpin LG untuk menarik diri dari proyek ambisius senilai 11 triliun won tentu menjadi perhatian. Meskipun alasan pengunduran itu belum jelas namun yang perlu dilihat akhir akhir ini sering muncul ketidakpastian regulasi.
Pengamat Energi Terbarukan, Surya Darma mengatakan, meskipun pemerintah Indonesia memiliki ambisi besar dalam mengembangkan industri baterai EV (electric vehicle), perubahan regulasi yang tidak terduga atau ketidakjelasan dalam implementasi kebijakan dapat menciptakan ketidakpastian bagi investor.
"Dengan mundurnya konsorsium tersebut tentu merupakan pukulan bagi ambisi Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam rantai pasokan baterai global. Namun, hal ini tidak serta merta mengakhiri prospek industri ini,"ujar Surya Darma, Selasa (22/4) seraya berharap pada masa depan ekosistem kendaraan listrik RI.
Indonesia urai Surya Darma memiliki potensi kekayaan sumber daya nikel yang signifikan, yang merupakan bahan baku utama baterai EV. Keunggulan komparatif ini tetap menjadi daya tarik bagi investor lain.
Selain itu, Indonesia yang memiliki populasi yang besar dan pertumbuhan kelas menengah yang cepat, maka punya harapan akan potensi pasar kendaraan listrik di Indonesia yang sangat besar. "Ini menjadi insentif bagi pengembangan industri baterai lokal. Kita harapkan dengan dukungan Pemerintah dan komitmen yang kuat untuk mengembangkan industri EV dan baterai melalui berbagai kebijakan dan insentif,"ungkapnya
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal ini kata dia, tentu saja bisa menjadi daya tarik bagi investor lain yang memiliki persyaratan yang sesuai.
Diharapkan, mundurnya konsorsium tersebut akan membuka peluang bagi konsorsium atau investor lain dari berbagai negara untuk menjalin kemitraan dengan Indonesia.
Pemerintah Indonesia yang sudah membentuk satgas hilirisasi dimotori Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia kemungkinan akan semakin fokus pada hilirisasi sumber daya alam, termasuk nikel, untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Ini akan terus mendorong pengembangan industri pengolahan dan produksi material baterai. Walaupun, dengan mundurnya konsorsium LG adalah perkembangan yang disayangkan, namun tidak berarti akhir dari mimpi Indonesia untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasokan baterai EV.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah dan pihak terkait perlu mengevaluasi penyebab mundurnya konsorsium ini dan mengambil langkah-langkah proaktif untuk menarik investor lain, memperbaiki iklim investasi, dan memastikan regulasi yang jelas dan mendukung. Potensi sumber daya alam dan pasar domestik yang besar tetap menjadi modal penting bagi pengembangan industri baterai Indonesia di masa depan,"ucapnya
Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu bara Indonesia (Aspebindo) Fathul Nugroho menuturkan dengan fenomen ini Indonesia semakin bergantung pada impor dan menghambat transfer teknologi
“Dampak dari pembatalan Proyek Titan yang merupakan kolaborasi LGES dengan Indonesia Battery Corporation (IBC), berpotensi menunda target produksi baterai EV berbasis nikel dalam negeri,” ucap Fathul.
Sebab, Proyek Titan diharapkan menjadi tulang punggung pengembangan ekosistem baterai nasional. Selain itu, mundurnya LGES berisiko menunda transfer teknologi pengolahan nikel menjadi bahan baterai berkualitas tinggi. Padahal, kemampuan mengolah prekursor dan katoda merupakan kunci peningkatan nilai tambah mineral.
“Kehilangan kesempatan alih teknologi di sektor bernilai tinggi ini bisa memperlebar ketergantungan kita pada impor,” ujar Fathul.
Keputusan konsorsium LG Energy Solution (LGES) membatalkan proyek baterai kendaraan listrik (EV) dinilai sebagai cerminan dinamika global yang harus dijawab dengan kebijakan hilirisasi yang lebih matang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!