'Sinners': Drama Persaudaraan Berbungkus Teror Vampir dan Musik Blues dari Sutradara Black Phanter
📅 Rabu, 16 Apr 2025, 23:03 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
Saat trailer "Sinners" dirilis beberapa bulan lalu, kesan yang muncul dari film ini tidak begitu jelas, seperti film bergenre thriller yang sangat gelap, dengan ekpresi para cast yang begitu kuat berkarakter.
Mungkin sebagian penonton baru paham dari resensi jika karya sutradara nominasi Oscar dua kali, Ryan Coogler ini adalah film horor.
Ini merupakan kejutan mengingat Coogler selama ini populer dengan genre superhero Marvel, Black Panther (2018), dan film drama spin-off Rocky, Creed (2015). Ini menunjukkan kemampuannya bahwa dia adalah sutradara bertalenta multi genre, dengan sederet tropi sutradara terbaik seperti Saturn Award, Hollywood Award, AAFCA Award dan BFFC Award.
Meskipun film yang juga ditulis dan diproduksi oleh Coogler ini belum terbukti di ajang kompetisi, setidaknya pemeringkat populer seperti IMDB dan Rotten Tomatoes masing-masing memberi skor 83 dari kritukus, dan 99 persen dari penonton, menunjukkan kans pembeli tiket pulang dengan wajah kecewa cukup sulit.
Berlatar tahun 1932, Sinners mengisahkan saudara kembar Smoke dan Stack (keduanya diperankan oleh Jordan), yang kembali ke kampung halaman mereka di Mississippi untuk membuka kelab malan. Semuanya sukses, sampai kengerian mengejutkan terjadi di tengah malam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tampil dengan format rasio Ultra Panavision 70 (2.76:1) dan IMAX (1.43:1), Sinners bisa dikatakan menakjubkan dalam mengalirkan cerita. Sejak awal penonton disuguhkan visualisasi memukau kedua format gambar tersebut, kita serasa berada di dalam cerita, kehidupan masyarakat AS di kawasan Mississippi yang kental dengan budaya musik blues plus perilaku rasis dari kaum kulit putih terhadap warga kulit hitam saat itu.
Awalnya, seolah film ini hanya berkisah sepak terjang Smoke dan Stack yang terkenal merupakan kaki tangan gembong mafia Al Capone, yang ingin membangun bisnis baru. Bertahap, penonton dikenalkan pada masa lalu asmara dan konflik keluarga mereka sambil cerita yang terus maju dengan kehadiran seorang vampir kulit putih yang melarikan diri dari kejaran sekelompok Indian.
Dari situ sebetulnya penonton sudah menduga bagaimana arah cerita dan konflik dalam Sinners, namun entah mengapa film ini tetap tertarik untuk terus diikuti, adegan demi adegan sampai akhir. Dan itu cukup panjang, 2 jam 17 menit,, sebaiknya Anda ke toilet sebelum karcis anda disobek petugas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Bagian akhir cerita tetap seru dan menegangkan. Bahkan Coogler menambahkan beberapa post credit scene ala-ala Marvel. Pastikan tetap di kursi sampai benar-benar adegan-adegan tambahan ini tuntas, dengan nama sang sutradara muncul dalam font warna putih.
O ya, post credit scene Sinners bukan basa-basi, justru melengkapi kesempurnaan cerita dan mungkin siapa tahu, jika pendapatannya memuaskan Warner Bros., akan berlanjut ke sekuel dua.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!