Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kalau Tidak Segera Sadar, Ibarat Penyakit, RI Menuju Kanker Stadium Empat

📅 Selasa, 08 Apr 2025, 01:20 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Kalau Tidak Segera Sadar, Ibarat Penyakit, RI Menuju Kanker Stadium Empat Doc: Antara
Ket. Hubungan Perdagangan AS dan Indonesia

JAKARTA- Perekonomian Indonesia dinilai berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan, jika Pemerintah tidak segera melakukan reformasi struktural, terutama menangani akar masalah yang selama ini menyebabkan ekonomi sulit tumbuh lebih tinggi.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko yang diminta pendapatnya dari Yogyakarta, Minggu (6/4) mengatakan jika Pemerintah tidak memahami akar permasalahan struktural ekonomi nasional, maka upaya perbaikan akan sia-sia dan hanya tinggal menunggu waktu menuju krisis yang lebih dalam.

“Kalau kita tidak tahu masalah utama, sulit juga menyembuhkannya. Tapi kalau kita tahu, dan tetap tidak berbuat, itu lebih berbahaya, karena hanya soal waktu sampai semuanya terlambat. Seperti kanker, sekarang kita di stadium tiga, kalau tidak diobati segera, akan masuk stadium 4 dan colaps,” papar Aditya. 

Aditya membandingkan bagaimana Amerika Serikat (AS) bisa tumbuh pesat menjadi negara adidaya karena menerapkan kebijakan tarif tinggi pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Mereka melindungi industrinya dan menumbuhkan basis produksi dalam negeri.

Setelah AS membuka pasarnya ke dunia pada abad ke-20, maka defisit neraca perdagangannya terus meningkat karena menyerap produk-produk dari negara eksportiryang sangat masif mensubsidi industri-industrinya seperti Tiongkok, Uni Eropa dan Jepang.

“Saat ini defisit perdagangan AS sudah mencapai 1 triliun dollar AS per tahun, sehingga mematikan industri dan produk dalam negerinya, sehingga menekan pertumbuhan ekonominya selama 30 tahun terakhir,” kata Aditya.

AS bisa bertahan sampai hari ini, karena inovasi teknologinya luar biasa yang menyelamatkan daya saingnya. Keberanian Presiden Donald Trump mengambil keputusan yang berani dinilai sebagai keputusan yang tepat dan memang mereka tidak punya pilihan lain. 

Meskipun banyak ditentang, tetapi Trump tahu obatnya cuma itu untuk memulihkan ekonomi negara adidaya itu. Sebagai negara besar, AS sadar harus menghentikan defisit perdagangan dan defisit anggarannya serta tumpukan utang. 

Dari pandangan global, Trump dipandang sebagai sosok yang kontroversial, tetapi bagi AS, dia adalah penyelamat AS. Belum ada Presiden AS sebelumnya yang berani untuk mengubah sistem yang bobrok tersebut.

AS selama ini kata Aditya banyak mensubsidi negara-negara mitra dagangnya dengan berbagai kebijakan seperti Generalized System of Preferences (GSP). GSP adalah fasilitas perdagangan yang diberikan AS ke Indonesia berupa potongan bea masuk berbagai item produk ekspor Indonesia ke AS. 

Sebagaimana diketahui, Indonesia mendapatkan fasilitas GSP kategori A, yang berarti mendapatkan potongan bea masuk 3.500 produk termasuk produk agrikultur yang diperpanjang pada awal November 2020. 

Fasilitas tersebut tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga ke negara-negara mitra dagangnya yang lain, termasuk Tiongkok. Oleh Tiongkok, kemudahan dari AS itu dimanfaatkan dengan optimal dengan mensubsidi habis-habisan industrinya. 

Tiongkok jelas Aditya memanfaatkan kesempatan, saat AS terlena. Tetapi dengan kebijakan tarif baru yang diberlakukan Trump, maka kekayaan Tiongkok sudah selesai. Sekarang, untuk tumbuh 3-4 persen saja bagi mereka berat. 

Sebelum tarif Trump, RRT hanya menargetkan pertumbuhan 5 persen pada 2025, itu pun sulit tercapai, karena ekoomi mereka hanya bergantung pada ekspor, bukan konsumsi dalam negeri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.