Kalau Tidak Segera Sadar, Ibarat Penyakit, RI Menuju Kanker Stadium Empat
📅 Selasa, 08 Apr 2025, 01:20 WIB | Oleh: Tim RedaksiDengan kebijakan tarif AS, maka Tiongkok bingung mau melempar ke mana barang mereka. Negara lain tidak akan mampu menyerap barang mereka yang begitu murah apalagi Indonesia. Selama ini, strategi mengirim barang ke Indonesia yang numpang lewat dengan pinjam nama Indonesia sudah selesai.
Stadium Akut
Sementara itu, Doktor Ekonomi lulusan Universitas Tanjung Pura (Untan), Pontianak, Sabianus Beni mengatakan kalau pemimpin Indonesia tidak melek dan tidak sadar seperti Presiden AS, Donald Trump, maka ekonomi Indonesia berada di kanker stadium akut.
“Kalau nanti sudah stadium empat, terlambat untuk bisa disembuhkan. Masa kita reformasi dari 1998 tapi sekarang lebih ambruk dari kondisi 1998.Sekarang utang sudah hampir mencapai 500 miliar dollar AS,Bagaimana kita cicil utang, kalau obligasi rekap BLBI dipertahankan sampai sekarangatau sudah 27 tahun, padahal ini menghisap darah RI,” kata Sabianus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia pun yakin hanya Presiden Prabowo Subianto yang bisa membenahi masalah tersebut. Berbeda dengan sebelumnya yang hanya membangun menara gading, tetapi tidak memikirkan akibatnya.
“Bagaimana kita membayar utang sebesar itu dengan sektor riil begitu lemah. Kalau kuat itu lain soal. Dibuat lemah oleh sistem, lalu dari utang kita konsumsi.Kalau tidak sadar, ya bagaimana. Kalau kita tidak tau masalah utama dan mendasar RI, maka akan sulit disembuhkan. Lebih parah lagi kalau tahu masalahnya, tapi tidak peduli ini, ini hanya menunggu waktu saja,” katanya.
Dia pun berharap, Presiden Prabowo yang memiliki keberanian, bisa bertindak nyata dan tidak sekadar menyampaikan slogan yang populis. Kepala Negara diyakini tahu permasalahannya yaitu Indonesia saat ini, terjebak dalam pola konsumsi berbasis utang dan kebergantungan pada impor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ekonomi Konsumtif
Lebih lanjut, Aditya menilai Indonesia terlena dalam siklus ekonomi konsumtif berbasis utang luar negeri. “Utang tidak dipakai untuk membangun sektor produktif, tapi untuk konsumsi, termasuk impor pangan dan barang konsumsi. Intermediasi kredit perbankan habis untuk properti, barang konsumsi, dan kredit untuk kroni kekuasaan. Ini ekonomi biaya tinggi,” jelasnya.
Menurutnya, struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga memperparah situasi. “APBN terus defisit. Sekitar 70 persen hanya untuk bayar utang dan birokrasi, 15 sampai 20 persen menguap karena korupsi, dan hanya 5-10 persen yang benar-benar tersisa untuk pembangunan,” urai Aditya.
Aditya menyebutkan utang negara yang telah menembus 500 miliar dollar AS menjadi indikator krisis yang tidak bisa diabaikan. “Kalau kita terus menumpuk utang di atas utang, sementara sektor riil kita lemah, ya bagaimana mau bayar? Ini seperti menghisap darah negara sendiri,” jelasnya.
Ia juga mengungkap bahwa Indonesia hanya menikmati surplus dagang dengan AS sekitar 18 miliar dollar AS. “Kalau AS menutup akses dagangnya untuk kita, surplus kita itu akan langsung hilang. Kita harus inovatif, tidak bisa terus bergantung pada pasar luar dengan produk maklon yang tidak punya nilai tambah tinggi,” katanya.
Masalah utama ekonomi Indonesia papar Aditya adalah dominasi segelintir elite ekonomi-politik yang selama ini menguasai impor.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!