Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menlu Rubio Tepis Kritik Soal Minimnya Respons AS terhadap Gempa Myanmar

📅 Sabtu, 05 Apr 2025, 13:35 WIB | Oleh:
Menlu Rubio Tepis Kritik Soal Minimnya Respons AS terhadap Gempa Myanmar Doc: AP
Ket. Menlu AS Marco Rubio.

JAKARTA - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menepis tuduhan Washington tidak dapat membantu Myanmar yang dilanda gempa bumi karena pemerintahan Donald Trump menutup badan bantuan kemanusiaannya.

Rubio mengatakan AS harus menyeimbangkan pekerjaan penyelamatan kemanusiaan global dengan "kebutuhan lain" dan "prioritas lain" yang sesuai dengan kepentingan nasional AS.

"Ada banyak negara kaya lainnya di dunia, mereka semua harus ikut membantu. Kami akan melakukan bagian kami. Kami sudah memiliki orang di sana. Kami akan menempatkan lebih banyak orang di sana. Kami akan membantu semampu kami [tetapi] ini bukan tempat yang mudah untuk bekerja... mereka memiliki junta militer yang tidak menyukai kami," kata Rubio seperti dikutip BBC.

Seorang mantan pejabat USAID mengatakan kepada BBC, dengan dibekukannya badan bantuan tersebut berarti Gedung Putih tidak dapat mengirim tim dari AS untuk segera menyelamatkan korban gempa bumi yang terjadi pada 28 Maret.

Bencana gempa di Myanmar telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.

AS secara rutin dapat mengerahkan hingga 200 pekerja penyelamat dan anjing pelacak beserta peralatan khusus, dan sering kali menjadi tim tanggap darurat asing dengan peralatan terbesar dan terbaik di lapangan.

Minggu lalu, departemen luar negeri mengatakan tim AS yang terdiri dari tiga penasihat yang berbasis di wilayah tersebut sedang dikirim ke zona bencana.

Berbicara kepada wartawan di pertemuan NATO di Brussels, Rubio menyalahkan rezim militer di Myanmar atas kurangnya akses, meskipun departemen luar negeri mengatakan awal pekan ini negara tersebut telah mengajukan permintaan bantuan resmi.

Mantan pejabat USAID mengatakan pekerjaan mereka dianggap non-politis, dan mereka sebelumnya telah mengakses negara-negara yang dianggap bermusuhan secara politik.

"Itu akan menghambat respons kami, apa pun yang terjadi," kata Rubio.

"Dengan demikian, kami bersedia untuk terus membantu dalam krisis kemanusiaan. Negara-negara lain juga perlu melakukannya. Tiongkok adalah negara yang sangat kaya. India adalah negara yang kaya. Ada banyak negara lain di dunia, dan semua orang harus membantu."

Menurut mantan pejabat kemanusiaan Amerika, Tiongkok dan India termasuk di antara negara pertama yang menempatkan tim di Myanmar.

Rubio menepis pernyataan para ahli bantuan kemanusiaan yang mengatakan ketidakmampuan mengerahkan tim penyelamat AS dalam jumlah besar disebabkan oleh pemotongan dana USAID.

"Mereka adalah orang-orang yang menghasilkan jutaan dan ratusan juta dollar di LSM [organisasi nonpemerintah] di seluruh dunia yang berdiri dan mereka dibanjiri uang pembayar pajak AS, dan kemudian kita harus menghabiskan 10 [atau] 100 juta dollar untuk memberikan 10 juta kepada orang-orang. Kita tidak akan melakukan itu lagi. Oke? Kita sudah berhenti. Kita tidak akan lagi menghabiskan 10 juta, 100 juta dolar untuk memberikan 10 juta kepada penerima.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.