Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Air dan Pertanian di Tengah Krisis Iklim

📅 Jumat, 21 Mar 2025, 20:16 WIB | Oleh:

Selain teknologi, penting pula memulihkan ekosistem air yang selama ini diabaikan. Restorasi daerah aliran sungai (DAS), pembangunan embung, danau tadah hujan, dan sistem penampungan air tradisional, seperti sepa di Nusa Tenggara atau bendung di Jawa, merupakan langkah konkret untuk mengelola air secara alami.

Bali, misalnya, dengan sistem Subak yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, telah membuktikan bahwa kearifan lokal dapat mengelola air secara adil dan efisien. Pertanyaan besarnya, mengapa sistem seperti Subak tidak direplikasi secara lebih luas di Indonesia?

Lebih jauh, praktik pertanian regeneratif, seperti agroekologi, tumpang sari, dan penggunaan pupuk organik, juga harus menjadi arus utama, bukan hanya proyek percontohan. Varietas padi tahan kering, seperti Inpago 12 dari BB Padi Kementan, perlu disebarluaskan ke wilayah rawan kekeringan agar ketergantungan petani pada air berkurang.

Pola tanam bergilir yang menjaga kesuburan tanah dan menghemat air pun mesti dikampanyekan secara nasional. Namun, semua itu tidak cukup tanpa kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat dan daerah harus memiliki visi bersama dalam tata kelola air. Revisi Undang-Undang Sumber Daya Air No 17/2019 perlu memastikan bahwa akses air untuk pertanian rakyat menjadi prioritas utama, bukan justru dikuasai oleh korporasi besar atau dilepas ke pasar.

Di tingkat lokal, organisasi petani harus diberdayakan sebagai mitra, bukan sekadar penerima instruksi. Pengalaman organisasi, seperti Perhimpunan Petani Pemuda Indonesia (PPPI), yang berhasil meningkatkan produktivitas petani Lombok hingga 25 persen melalui teknologi hemat air membuktikan bahwa petani punya kapasitas menjadi pelopor perubahan.


Tindakan nyata

Dunia usaha dan lembaga internasional juga tidak boleh berpangku tangan. Skema pembiayaan hijau (green financing) untuk infrastruktur air, seperti embung dan sistem panen air hujan, harus diperluas. Kerja sama perusahaan susu dengan petani kopi di Cianjur, yang membangun sistem panen air hujan untuk menyelamatkan 500 hektare lahan dari kekeringan, menjadi model konkret kemitraan yang bisa direplikasi.

Jika korporasi global bisa memikirkan air sebagai investasi masa depan, mengapa negara  masih menganggap air sebagai masalah pinggiran?

Di tengah ancaman krisis air yang nyata, Hari Air Sedunia bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah alarm keras bagi bangsa ini untuk bangkit. Setiap tetes air yang terbuang, setiap hektare sawah yang gagal panen karena kekeringan, adalah peringatan bahwa masa depan kita sedang dipertaruhkan.

Jika gagal mengelola air hari ini, bukan hanya ketahanan pangan yang runtuh, tetapi juga stabilitas sosial dan ekonomi bangsa.

Sudah waktunya Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam mengelola air. Sudah waktunya air tidak lagi menjadi ladang perebutan antarsektor, tetapi menjadi sumber kesejahteraan bersama.

Sudah saatnya petani kita, yang menghidupi negeri ini, tidak lagi menjadi korban krisis air, melainkan bagian dari solusi.

Kelak, anak cucu kita akan bertanya, "Apa yang dilakukan generasi ini ketika air mulai menghilang?" Biarlah mereka mengenang kita sebagai generasi yang bukan hanya memperingati air, tetapi memperjuangkannya. Jika kita bisa menjaga air hari ini, kita menjaga kehidupan esok hari. Bukan hanya untuk kita, tetapi untuk mereka, generasi masa depan. Ant

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Serius Ada Cadangan Beras 4,8 Juta Ton? Kok Beras Tetap Mahal

49 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Nasional
Serius Ada Cadangan Beras 4...

Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk Program Berani

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Tak Dijamin JKN, Bisa Masuk...

Kasus Kapal Virgo, Empat Tersangka Ditetapkan

1 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kasus Kapal Virgo, Empat Te...
Advertisement
Impor Solar Indonesia Resmi Berhenti, Ternyata Ini Dampak Kebijakan B50

Impor Solar Indonesia Resmi Berhenti, Ternyata Ini Dampak Kebijakan B50

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.