Air dan Pertanian di Tengah Krisis Iklim
📅 Jumat, 21 Mar 2025, 20:16 WIB | Oleh: Opik
Doc: (ANTARA/Feri Purnama)
JAKARTA - Air adalah sumber kehidupan yang esensial bagi manusia dan lingkungan. Ia tidak hanya mengalir di sungai atau menggenang di sawah, tetapi juga menjadi elemen vital yang menopang masyarakat, budaya, dan peradaban.
Di sektor pertanian, air berperan sebagai fondasi yang menopang ketahanan pangan. Secara global, sekitar 70 persen air yang digunakan manusia dialokasikan untuk pertanian.
?
Di Indonesia, sebagai negara agraris dengan hampir 39 juta orang yang bergantung pada sektor pertanian, air menjadi penopang utama pangan bangsa. Ketersediaan dan pengelolaan air yang baik sangat penting untuk memastikan produksi pertanian yang optimal dan berkelanjutan.
Tantangan saat ini, seperti krisis iklim yang semakin nyata mengancam hubungan antara air dan pertanian. Perubahan pola curah hujan, kekeringan, dan banjir menjadi ancaman serius bagi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan nasional.
?
Hari Air Sedunia yang diperingati setiap 22 Maret seharusnya menjadi momen refleksi bagi kita semua. Sampai kapan kita akan terus mengabaikan pentingnya air yang selama ini kita anggap tersedia tanpa batas? Kesadaran dan tindakan nyata dalam menjaga dan mengelola sumber daya air secara bijak menjadi kunci untuk menjamin keberlanjutan kehidupan, budaya, dan peradaban kita di masa depan.?
Pemanfaatan air
Fakta-fakta menunjukkan bahwa krisis air bukan sekadar prediksi, melainkan kenyataan yang sudah menggerus sendi-sendi pertanian. Meskipun Indonesia dikaruniai sekitar 6 persen dari total cadangan air tawar dunia, distribusi air ini sangat timpang dan tidak merata.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sebagian wilayah, seperti Kalimantan dan Sumatera, air melimpah ruah, tetapi di Nusa Tenggara, sebagian Jawa, dan sebagian Sulawesi, petani harus berjibaku dengan kekeringan yang kian panjang. Ketimpangan ini diperparah oleh anomali iklim yang semakin sulit diprediksi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa dalam satu dekade terakhir, intensitas hujan ekstrem di Indonesia meningkat hingga 20 persen, sementara kemarau melanda lebih lama dari pola musiman normal. Akibatnya, ribuan hektare lahan pertanian gagal panen karena kebanjiran saat masa tanam, atau sebaliknya, kekeringan saat masa berbuah.
Fenomena El Nino 2023 menjadi bukti konkret, puluhan ribu petani di Jawa dan Nusa Tenggara kehilangan hasil panen akibat kemarau panjang yang memaksa mereka berhenti menanam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ironisnya, tradisi pertanian kita juga ikut memperparah krisis air yang sedang mengancam. Cara bertani yang rakus air dan tidak ramah lingkungan, seperti sistem irigasi genangan, penggunaan pupuk kimia berlebihan, serta alih fungsi lahan, telah mempercepat degradasi kualitas air dan tanah.
Padahal, menurut Food and Agriculture Organization (FAO), setidaknya 50 persen air irigasi di Indonesia hilang begitu saja akibat infrastruktur rusak dan tata kelola air yang amburadul. Jika pola ini terus berlangsung, World Bank memperkirakan Indonesia bisa kehilangan hingga 30 persen produksi pangannya pada 2045 karena kombinasi kelangkaan air, kerusakan tanah, dan perubahan iklim.
Padahal, 2045 adalah tahun di mana bangsa kita memproyeksikan Indonesia Emas sebagai negara maju berketahanan pangan dan energi.
Prakarsa masyarakat
Di beberapa daerah, secercah harapan muncul dari inovasi dan prakarsa masyarakat. Di Kabupaten Sleman, misalnya, petani bawang merah berhasil mengurangi penggunaan air hingga 40 persen melalui irigasi presisi berbasis sensor kelembaban tanah. Teknologi sederhana ini terbukti mampu menjaga produksi tetap stabil meskipun debit air turun.
Hanya saja, keberhasilan ini masih bersifat sporadis, belum menjadi gerakan nasional. Pemerintah semestinya mendorong adopsi teknologi irigasi hemat air, baik melalui subsidi alat, pelatihan petani, maupun regulasi yang mendukung.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!