AS Yakin ByteDance akan Sepakat Menjual TikTok Sebelum 5 April 2025
📅 Selasa, 18 Mar 2025, 01:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: istimewa
JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS)baru-baru ini optimis ByteDance sebagai perusahaan induk TikTok bakal menyepakatipenjualan TikTok ke AS sebelum batas waktu 5 April 2025. Hingga batas waktu itu, jika tidak melakukan peralihan kepemilikan, maka aplikasi itu akan dilarang selamanya di AS.
Wakil Presiden AS,JD Vance seperti dilaporkan Phonearena, Jumat (14/3) menyebutkan, agaroperasional TikTok terjaga, maka kesepakatan itu akan tetap berlanjut.
Dalam hal operasional TikTok di AS, diketahui bahwa aplikasi harus melakukan penjualan aset agar terhindar dari pelarangan atau pemblokiran akses di AS sebelum 5 April 2025.
Adapun perusahaan harus dijual kepada perusahaan yang berkantor pusat di luar Tiongkok, dan oleh karenanya beberapa perusahaan AS terlihat tertarik dengan aplikasi tersebut.
Keputusan penjualan aset itu dimulai setelah pada awal 2025, TikTok sempat diblokir pada 19 Januari 2025 di AS karena adanya aturan yang disahkan oleh Pemerintahan Joe Biden.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sehari setelahnya, terjadi peralihan pemerintahan ke Donald Trump yang menjadi presiden terpilih. Dengan segera ia merilis perintah eksekutif dengan memberikan waktu bagi TikTok selama 75 hari untuk bisa menjual aplikasinya ke pihak lain agar tetap bisa beroperasi di AS.
Hal itu yang jadi dasar JD Vance meyakini ByteDance akan menyepakati penjualan TikTok untuk AS sebelum 5 April, apalagi posisi Vance ternyata menjadi perantara kesepakatan sesuai dengan permintaan Trump.
Sebar Propaganda
Sebaiknya Anda baca juga:
Wakil presiden AS yang memiliki latar belakang di industri modal ventura itu bekerja sama dengan penasihat keamanan nasional AS Michael Waltz dengan harapan menemukan pembeli yang berbasis di AS untuk aplikasi kontroversial tersebut.
Alasan mendasar TikTok di AS harus dijual ke pihak lain sebenarnya karena keberatan dari anggota parlemen AS dan bahkan Trump terhadap TikTok.
Aplikasi tersebut seperti dikutip dari Antara diduga mencuri data pribadi milik remaja dan pra-remaja saat pembukaan akun berlangsung.
Ketakutan lainnya adalah bahwa negara asal TikTok yakni Tiongkok menyebarkan propaganda kepada remaja AS dengan memasukkan video tertentu di linimasa milik pemilik akun TikTok muda Amerika tertentu.
CEO perusahaan pengelolaan portofolio dari Omnivest Finansial, Reid Rasner telah memvaluasi TikTok dengan harga setinggi 50 miliar dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!