Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PSU Pilkada di 24 Daerah Habiskan Rp719 Miliar, Pakar: Cerminan Buruknya Tata Kelola Pemilu di Indonesia

📅 Sabtu, 15 Mar 2025, 01:10 WIB | Oleh:
PSU Pilkada di 24 Daerah Habiskan Rp719 Miliar, Pakar: Cerminan Buruknya Tata Kelola Pemilu di Indonesia Doc: Dok. UGM

YOGYAKARTA - Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk menggelar Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada di 24 daerah di Indonesia. Keputusan ini diperkirakan membutuhkan anggaran hingga Rp719 miliar, yang dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal ini menjadi sorotan di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang sedang diterapkan pemerintah.

Dosen Politik dan Pemerintahan UGM, Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia, S.IP., M.A., menilai bahwa keputusan PSU ini mencerminkan buruknya tata kelola pemilu dan pilkada di Indonesia. Ia menegaskan bahwa kualitas Pilkada saat ini semakin menurun dan hanya berfokus pada proses pra-pemilihan, tanpa memastikan kompetisi yang sehat. "Pilkada sekarang tidak berkualitas. Secara substantif, hasilnya bisa diperkirakan sejak awal, karena prosesnya tidak kompetitif," ujarnya, Kamis (13/3).

Alfath juga menyoroti bagaimana partai politik, kandidat, dan masyarakat terjebak dalam hubungan transaksional, sehingga demokrasi yang ideal sulit terwujud. Kecurangan dalam Pilkada semakin marak terjadi, dengan banyaknya sengketa yang berujung pada PSU. Ia menyebut bahwa banyak keputusan MK terkait PSU masih berakar pada masalah administratif, yang seharusnya dapat dicegah melalui aturan yang lebih ketat dan implementasi yang lebih baik.

Menurut Alfath, biaya politik yang tinggi juga menjadi faktor utama buruknya integritas pemilu. "Untuk menjadi kandidat saja, modalnya luar biasa besar. Belum lagi budaya vote buying (pembelian suara) yang masih mengakar di masyarakat," tuturnya.

Solusi Perbaikan Tata Kelola Pemilu dan Pilkada

Sebagai solusi, Alfath mengusulkan beberapa langkah perbaikan dalam sistem kepemiluan Indonesia. Pertama, memperbaiki regulasi pemilu dengan menyesuaikan jarak kampanye agar kandidat memiliki waktu yang cukup untuk menyampaikan visi-misi kepada masyarakat. Dengan begitu, pemilih dapat memahami substansi program yang ditawarkan.

Kedua, melakukan reformasi partai politik, khususnya dalam sistem kaderisasi dan penyaringan kandidat. Ia menekankan bahwa seleksi kandidat harus berbasis kapasitas dan kompetensi, bukan sekadar modal politik.

Ketiga, memperkuat Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) agar lebih berperan aktif dalam menegakkan aturan pemilu. Saat ini, Bawaslu dinilai masih pasif dalam mencegah pelanggaran. "Jika regulasi diperbaiki, pemilu bisa lebih berbasis meritokrasi, di mana hanya orang-orang yang kompeten dan berintegritas yang berhak maju," jelasnya.

Alfath menilai bahwa PSU seharusnya hanya dilakukan dalam kondisi darurat, seperti bencana alam atau kerusuhan, bukan akibat pelanggaran yang dilakukan oleh peserta atau penyelenggara Pilkada. Keputusan PSU kali ini justru memberikan beban tambahan bagi pemerintah daerah. Ia mencontohkan bahwa Papua membutuhkan sekitar Rp100 miliar untuk menggelar PSU, jumlah yang sangat besar dibandingkan kapasitas APBD setempat.

Selain dampak anggaran, PSU juga berpotensi mengubah dinamika politik Pilkada. Ia mengkhawatirkan menurunnya antusiasme pemilih, kondisi kampanye yang tidak ideal, serta terganggunya stabilitas politik di daerah yang terdampak.

“Dengan anggaran yang seharusnya bisa digunakan untuk pembangunan, kini daerah justru harus melakukan penyesuaian APBD demi menggelar PSU. Ini menjadi tantangan besar bagi tata kelola pemilu ke depan,” pungkas Alfath.

Dengan berbagai tantangan ini, ia menekankan bahwa perlu ada langkah serius untuk menekan angka PSU di masa mendatang, agar Pilkada lebih efisien, berkualitas, dan mencerminkan demokrasi yang sehat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis

23 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Perluas Cek Keseha...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.