Lapisan Es Antartika dan Arktik Capai Rekor Terendah pada Februari 2025
📅 Kamis, 06 Mar 2025, 10:46 WIB | Oleh: Tim PenulisCopernicus menambahkan, suhu khususnya meningkat di utara Lingkaran Arktik, dengan suhu rata-rata 4C di atas rata-rata tahun 1991–2020 untuk bulan tersebut, dan satu area di dekat Kutub Utara mencapai 11C di atas rata-rata.
Copernicus mengatakan kurangnya data historis dari wilayah kutub membuat sulit memberikan perkiraan pemanasan yang tepat dibandingkan dengan periode pra-industri.
Lautan, pengatur iklim dan penyerap karbon yang vital, menyimpan 90 persen kelebihan panas yang terperangkap oleh pelepasan gas rumah kaca akibat aktivitas manusia.
Suhu permukaan laut sangat hangat sepanjang tahun 2023 dan 2024, dan Copernicus mengatakan pembacaan pada bulan Februari merupakan yang tertinggi kedua yang pernah tercatat untuk bulan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Para ilmuwan iklim telah memperkirakan gelombang panas luar biasa di seluruh dunia akan mereda setelah peristiwa pemanasan El Nino mencapai puncaknya pada Januari 2024 dan kondisi secara bertahap beralih ke fase pendinginan La Nina.
Tetapi suhu panas masih bertahan pada tingkat yang memecahkan rekor atau mendekati rekor sejak saat itu, sehingga memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.
Peningkatan suhu sebesar 1,5C selama satu tahun di atas batas Perjanjian Paris dari tingkat pra-industri tidak menandai pelanggaran kesepakatan iklim, tetapi dengan rekor suhu tahun lalu, para ilmuwan memperingatkan bahwa target tersebut dengan cepat menjauh dari jangkauan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam 20 bulan sejak pertengahan 2023, hanya Juli tahun lalu yang turun di bawah 1,5C, kata Copernicus.
Pemantau Uni Eropa menggunakan miliaran pengukuran dari satelit, kapal, pesawat terbang dan stasiun cuaca untuk membantu perhitungan iklimnya.
Catatannya berasal dari tahun 1940, tetapi sumber data iklim lainnya, seperti inti es, lingkaran pohon, dan kerangka karang, memungkinkan para ilmuwan untuk memperluas kesimpulan mereka menggunakan bukti dari masa lalu yang jauh.
Para ilmuwan mengatakan periode saat ini kemungkinan merupakan periode terhangat yang pernah dialami Bumi selama 125.000 tahun terakhir.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!