Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

PERHATI-KL Memaparkan Kebiasaan Buruk yang Dapat Merusak Kesehatan Pendengaran

📅 Senin, 03 Mar 2025, 18:12 WIB | Oleh: Tim Penulis
PERHATI-KL Memaparkan Kebiasaan Buruk yang Dapat Merusak Kesehatan Pendengaran Doc: ANTARA
Ket. Arsip - Tangkapan layar - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok Bedah Kepala Leher Indonesia (PERHATI-KL), Yussy Afriani Dewi, di Jakarta, Jumat (3/3/2023).

JAKARTA– Perhimpunan Ahli THT Bedah Kepala Leher Indonesia (PERHATI-KL) menjelaskan sejumlah kebiasaan buruk yang perlu dihindari untuk menjaga kesehatan pendengaran, antara lain kebiasaan mendengarkan suara keras, merokok, dan konsumsi alkohol, serta penggunaan cotton bud.

"Paparan suara keras di atas 85 dB dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel rambut di dalam koklea yang berperan penting tentunya dalam proses pendengaran," kata Ketua Pengurus Pusat PERHATI-KL, Yussy Afriani Dewi, dalam temu media daring oleh Kementerian Kesehatan di Jakarta, Senin (3/3).

Adapun merokok, kata Yussy, memperburuk sirkulasi darah dan dan mengurangi pasokan oksigen ke dalam telinga, sehingga dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran. Kemudian, alkohol merusak sel-sel serta memperburuk kesehatan telinga dalam.

"Selain itu, alkohol dapat berinteraksi dengan obat-obatan tertentu yang digunakan untuk mengobati misalkan contohnya infeksi telinga atau penyakit yang berhubungan dengan gangguan dengar, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kerusakan pendengaran dan penyakit-penyakit sistemik lain seperti obesitas dan diabetes," kata dia menjelaskan.

Yussy menyebutkan stres dan gangguan psikologis berlebihan juga dapat memperburuk kondisi telinga, seperti menyebabkan sensasi berdenging. Sementara itu, stres kronis mempengaruhi aliran darah ke telinga bagian dalam.

Sejumlah penyebab selain kebiasaan adalah cedera atau trauma pada kepala yang dapat melukai struktur telinga, kemudian infeksi berulang pada telinga yang dapat menurunkan pendengaran sementara atau permanen jika tidak diobati.

"Konsumsi obat-obatan tertentu, obat-obatan ototoksik seperti contoh tadi aminoglycosida, diuretik, dan obat-obat kemoterapi seperti cisplatin. Juga jangan melupakan kondisi genetik," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Umum PP PERHATI-KL, Sally Mahdiani, menjelaskan penggunaan cotton bud untuk membersihkan telinga tidak perlu, karena tubuh memiliki mekanisme untuk membersihkannya, di mana kotoran telinga atau serumen akan keluar karena disapu oleh rambut telinga saat gerakan rahang seperti makan atau berbicara.

Apabila menggunakan cotton bud, katanya, terdapat risiko kotoran tersebut terdorong ke area telinga yang tidak dilindungi rambut tersebut, sehingga tidak dapat dikeluarkan.

Sally menyebutkan polusi udara dari kendaraan bermotor juga dapat merusak kesehatan pendengaran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Harga Energi dan Biaya Hidu...
Megapolitan
Dana Cadangan, Pramono Usul...
Luar Negeri
PBB akan Alokasikan Dana un...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.