Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Seni Perlawanan: Makin Dibungkam, Rakyat Makin Kuat Melawan

📅 Jumat, 28 Feb 2025, 15:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Seni Perlawanan: Makin Dibungkam, Rakyat Makin Kuat Melawan Doc: X/@jackjackparr
Ket. Mahasiswa dari berbagai kampus melakukan aksi Indonesia Gelap di kawasan Patung Kuda Jakarta, Senin (17/2/2025).

Wawan Kurniawan, Universitas Indonesia

Akhir tahun 2024 lalu, lukisan karya seniman Yos Suprapto dibredel. Lima dari dari 30 lukisan yang hendak dipamerkan diminta untuk diturunkan oleh pihak tertentu yang menganggap lukisannya vulgar, dan disampaikan oleh kurator yang ditunjuk Galeri Nasional, Suwarno Wisetrotomo.

Februari ini, ada lagi pembungkaman terhadap Teater Payung Hitam yang awalnya akan menampilkan naskah berjudul “Wawancara dengan Mulyono”. Pementasan yang diagendakan tampil pada tanggal 15-16 Februari 2025 itu akhirnya dibatalkan.

Kejadian terbaru yang juga masuk dalam kategori pembungkaman publik adalah kasus Band Sukatani. Dua personel band tersebut mengunggah video permintaan maaf kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melalui akun Instagram mereka. Lirik lagu “Bayar, Bayar, Bayar” mereka yang termasuk dalam album “Gelap Gempita” tersebut dinilai telah menghina institusi Polri.

Padahal, baik lukisan, lagu maupun karya lainnya bisa menjadi bentuk ekspresi masyarakat dalam mengkritik penyelenggaraan negara, dan hal itu sah-sah saja. Ini merupakan seni perlawanan yang lazim terjadi di banyak negara.

Publik tentu bisa menilai bahwa apa yang dilakukan oleh band tersebut—menyampaikan kritik terhadap institusi publik melalui musik—adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang seharusnya dijamin dalam sistem demokrasi. Menurut Teori Demokrasi Deliberatif, kebebasan berekspresi merupakan elemen kunci dalam ruang publik. Warga negara dapat mendiskusikan dan mengkritik kebijakan pemerintah secara terbuka tanpa takut represi.

Kritik melalui musik, sebagai bentuk komunikasi simbolik, berkontribusi pada proses deliberasi yang sehat dalam demokrasi dengan menyoroti isu-isu sosial dan mendorong diskusi publik yang lebih luas. Tindakan meredam kritik oleh negara justru berpotensi menjadi katalisator bagi resistensi yang lebih besar.

Seni perlawanan di berbagai negara

Seni bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi dari realitas sosial dan politik. Ketika karya seni dibungkam, yang terjadi bukanlah penghapusan pesan, tetapi justru amplifikasi pesan tersebut. Ketika karya seni dibungkam, terjadi efek Streisand, yakni ketika upaya sensor justru meningkatkan rasa ingin tahu publik, memperluas penyebaran pesan, dan menjadikannya simbol perlawanan yang lebih kuat.

Sejarah telah mencatat berbagai bentuk seni perlawanan yang berdampak besar. Salah satu contohnya adalah Pussy Riot di Rusia. Grup punk feminis ini menggunakan musik sebagai alat kritik terhadap rezim Vladimir Putin. Penangkapan dan pemenjaraan mereka justru menarik perhatian dunia terhadap otoritarianisme di Rusia dan menginspirasi gerakan prodemokrasi.

Di Amerika Serikat (AS), lagu-lagu protes seperti “Strange Fruit” yang dinyanyikan Billie Holiday menjadi simbol perlawanan terhadap rasisme sistemis. Lagu ini menggambarkan kekejaman lynching, yaitu praktik kekerasan brutal di mana sekelompok orang—sering kali tanpa proses hukum—menghukum dan membunuh seseorang, biasanya dengan cara digantung terhadap orang kulit hitam di Amerika. Ini memicu diskusi luas dan memperkuat gerakan hak-hak sipil.

Di Amerika Latin, mural dan grafiti oleh seniman seperti Diego Rivera digunakan untuk mengkritik ketidakadilan sosial dan ketimpangan ekonomi. Seni mural di negara-negara seperti Meksiko dan Chili sering kali menjadi alat perlawanan rakyat terhadap pemerintahan yang otoriter. Seni yang hadir sebagai bentuk perlawanan mampu membangun narasi tandingan dalam dominasi narasi penguasa di masyarakat.

Dalam kasus Band Sukatani, kemarahan publik terhadap kepolisian bukan sekadar karena mereka menekan satu band, tetapi lebih kepada simbolisme yang dihasilkan dari tindakan tersebut. Fenomena ini dapat dijelaskan dengan Social Identity Theory
(Teori Identitas Sosial), bahwa individu cenderung mengidentifikasi diri dengan kelompok tertentu, dan ketika kelompok mereka menghadapi ancaman, mereka akan semakin memperkuat ikatan dengan sesama anggota kelompok.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

27 menit yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Luar Negeri
Trump Teken Percepatan Tekn...
Megapolitan
Puncak HUT Jakarta Dipusatk...
Nasional
Stimulus Harus Diikuti Refo...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.