Sama-sama Pangkas Anggaran, Ini Bedanya Vietnam dengan Indonesia
📅 Kamis, 27 Feb 2025, 15:53 WIB | Oleh: Tim PenulisSalah seorang pegawai BRIN yang biasa menggunakan bus jemputan BRIN rute BRIN Gatot Subroto-Depok, mengatakan bahwa subsidi BBM untuk bus jemputan akan dihapuskan mulai bulan Maret 2025.
Akibatnya, para pegawai BRIN yang biasa menggunakan bus jemputan mulai bulan depan harus mengeluarkan uang ekstra untuk iuran BBM bus, dari semula Rp70.000/orang per bulan akan naik menjadi sekitar Rp175.000/penumpang setiap bulannya.
Selain itu, penghapusan perjalanan dinas luar negeri serta penyesuaian standar biaya masukan juga membatasi ruang gerak peneliti untuk melakukan riset. Ini membuat banyak periset terpaksa mengeluarkan dana pribadi untuk menghadiri seminar atau workshop di luar negeri.
2. Fungsi rekomendasi tidak berjalan
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu fungsi BRIN adalah melaksanakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan serta reka cipta dan inovasi dalam rangka penyusunan rekomendasi perencanaan pembangunan nasional berdasarkan hasil kajian ilmiah dengan berpedoman pada nilai Pancasila.
Dengan adanya pemotongan anggaran di hampir semua kementerian dan lembaga di Indonesia, maka riset tidak lagi menjadi prioritas dalam penyusunan kebijakan.
Salah seorang pegawai BRIN dari Direktorat Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan, dan Pengembangan Regional menyebutkan bahwa pada tahun 2025 ini direktoratnya menurunkan target penyusunan naskah kebijakan dari 25 naskah menjadi 3 naskah saja.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hal senada juga datang dari staf Direktorat Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan BRIN yang menjelaskan bahwa target penyusunan naskah kebijakan turun dari 15 ke 2 naskah—angka yang jauh dari kata ideal bagi lembaga riset negara sebesar Indonesia.
Berkaca dari Vietnam, dan juga negara-negara yang punya visi jangka panjang, seperti Singapura, efisiensi tidak berarti mengesampingkan sektor riset dan teknologi. Efisiensi akan berdampak positif jika visi jangka panjang negara jelas dan anggaran digunakan tepat untuk mendukung prioritas pembangunan.
Sektor riset dan teknologi adalah tulang punggung kemajuan bangsa. Ini yang tampaknya gagal disadari oleh pemerintah saat ini. Jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin daya saing Indonesia semakin tertinggal, bahkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Vietnam.
Amorisa Wiratri, Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Betti Rosita Sari, peneliti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Lamijo, Peneliti Pusat Riset Kewilayahan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!