Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Makna Cokelat Valentine, Hubungannya dengan Krisis Kakao dan Krisis Iklim?

📅 Jumat, 14 Feb 2025, 13:33 WIB | Oleh:
Makna Cokelat Valentine, Hubungannya dengan Krisis Kakao dan Krisis Iklim? Doc: antara foto
Ket. Petani Kakao di Papua.

JAKARTA - Harga cokelat yang melonjak tinggi saat Hari Valentine bukan sekadar berita ekonomi biasa. Kondisi ini merupakan gambaran nyata bagaimana krisis iklim yang mulai menyentuh hal-hal kecil, meski sebelumnya dianggap remeh.

Dari sebuah batang cokelat yang biasanya diberikan dengan penuh cinta, semua kini dipaksa untuk melihat lebih dalam ke akar permasalahan tentang bagaimana bumi yang semakin panas dan cuaca yang semakin kacau telah mengguncang rantai pasok kakao dunia.

Kakao adalah tanaman yang manja, hanya bisa tumbuh dalam kondisi yang pas dengan cukup lembap, cukup panas, tetapi tidak berlebihan.

Begitu suhu naik sedikit saja melewati ambang batas, begitu hujan datang tak menentu, produksi kakao langsung anjlok.

Laporan terbaru dari organisasi amal internasional Christian Aid “Cocoa Crisis: How Chocolate is Feeling the Bite of Climate Change”, mengungkapkan bahwa perubahan iklim telah menghantam produksi kakao di Ghana dan Pantai Gading (Côte d’Ivoire), dua negara penghasil kakao terbesar di dunia.

Ghana dan Côte d’Ivoire, dua negara yang menyumbang lebih dari 60 persen produksi kakao dunia, sekarang sedang mengalami skenario buruk ini.

Kemudian, laporan Climate Central “Climate change is heating up West Africa's cocoa belt”, mencatat, pada 2024, perubahan iklim memperpanjang periode hari dengan suhu tinggi di atas 32 derajat Celcius selama enam pekan di 71 persen wilayah penghasil kakao di Côte d'Ivoire, Ghana, Kamerun, dan Nigeria, suhu yang terlalu panas untuk penanaman kakao. Pola curah yang tidak menentu di Afrika Barat selama musim panen juga berdampak buruk pada kakao.

Suhu di atas 32 derajat Celcius yang bertahan selama berpekan-pekan telah merusak pertumbuhan kakao. Curah hujan yang tidak menentu menambah masalah, membuat hasil panen menurun drastis.

Ini bukan sekadar fluktuasi musiman, tetapi gejala dari perubahan iklim yang sudah semakin sulit dikendalikan.

Hasilnya, harga kakao melesat hingga 400 persen dalam beberapa tahun terakhir, mencapai puncaknya di 12.605 dolar AS per ton pada Desember 2024.

Para petani yang menggantungkan hidup dari kakao kini berada dalam posisi sulit. Ironisnya, mereka yang paling terkena dampaknya justru adalah mereka yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis ini.

Negara-negara maju, dengan jejak karbon yang jauh lebih besar, tetap menikmati cokelat mereka tentu saja, dengan harga yang lebih mahal sementara petani kecil di Afrika dan Indonesia harus berjuang menghadapi ancaman nyata terhadap penghidupan mereka.

Petani Kakao

Sementara Afrika Barat mendominasi produksi kakao global, Indonesia menempati posisi ketiga dengan 11,4 persen dari total produksi dunia pada 2022 atau sekitar 667 ribu ton.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.