Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ketegangan Perdagangan Global Memicu Posisi Rupiah Kian Tertekan

📅 Selasa, 11 Feb 2025, 01:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ketegangan Perdagangan Global Memicu Posisi Rupiah Kian Tertekan Doc: antara
Ket. Stabilitas Nilai Tukar

JAKARTA - Ketegangan perdagangan global yang dipicu oleh perang tarif antara Amerika Serikat (AS) dengan beberapa negara mitra dagangnya seperti Tiongkok, Kanada dan Meksiko menyebabkan sejumlah mata uang di regional maupun global tertekan, termasuk rupiah. 

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi membeberkan bahwa pelemahan nilai tukar (rupiah) dipengaruhi peningkatan kekhawatiran terkait ketegangan perdagangan ekonomi global.

“Presiden AS, Donald Trump mengumumkan tarif baru sebesar 25 persen untuk semua impor baja dan aluminium. Langkah ini telah meningkatkan kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan perdagangan dan dampak potensialnya terhadap ekonomi global,” kata Ibrahim dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (10/2).

Selain itu, Tiongkok mulai hari ini telah mengenakan tarif tambahan 15 persen terhadap batu bara dan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat sebagai bentuk balasan atas pemberlakuan tarif impor barang dari AS sebesar 10 persen. Sejumlah barang dari AS juga akan dikenakan bea masuk 10 persen oleh Tiongkok.

Dalam kesempatan lain, pengamat pasar uang Ariston Tjendra menilai kondisi ketenagakerjaan AS yang masih solid menjadi faktor kurs rupiah melemah. Tercatat, tingkat pengangguran AS bulan Januari 2025 menurun jadi 4,0 persen dari sebelumnya 4,1 persen, kenaikan upah naik 0,5 persen dari sebelumnya 0,3 persen, dan ekspektasi inflasi naik 4,3 persen dari sebelumnya 3,3 persen.

“Data ini tentu saja mendukung penguatan dollar AS terhadap nilai tukar lainnya,” kata Ariston.

Nilai tukar rupiah (kurs) pada penutupan perdagangan Senin di Jakarta melemah hingga 75 poin atau 0,46 persen ke posisi 16.358 per dollar AS dari sebelumnya 16.283 per dollar AS.

1739208524_5af29bd109fdbb075651.jpg

Sentimen Negatif

Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi mengatakan, ketegangan AS dan Tiongkok berdampak terhadap kondisi perekonomian global. Ketegangan itu dapat memunculkan sentimen negatif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang terdepresiasi.

“Situasi ini tentu akan berbahaya jika pemerintah dan Bank Indonesia tidak segera melakukan mitigasi atau penyesuaian kebijakan untuk menguatkan kembali rupiah. Meskipun kita juga tahu, kondisi global bukan satu satu faktor penentu pelemahan rupiah,”papar Badiul.

Faktor fundamental yang mengakibatkan pelemahan rupiah kata Badiul adalah defisit transaksi berjalan yang tinggi. Hal itu mencerminkan kebergantungan Indonesia pada impor dan arus modal asing.

Oleh sebab itu, BI sebagai otoritas moneter harus menawarkan kebijakan yang pro pasar, sehingga suku bunga acuan yang ditawarkan bisa menarik bagi investor untuk masuk ke Indonesia.

Selain itu, Pemerintah katanya perlu mengambil langkah dengan menerbitkan kebijakan untuk meningkatkan ekspor dibanding impor, agar neraca perdagangan surplus sebagai salah satu faktor yang bisa menahan rupiah tidak tertekan lebih dalam.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Forum Ulama Satukan Komitmen Tolak Politik Uang di Muktamar ke-35 NU
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan bebas pulsa? Layanan WhatsApp ...
  • Cuaca Hari Minggu Cerah Berawan di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
    Preview komentar:
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
    Apakah Bank Nagari ada layanan WhatsApp? Layanan WhatsApp call ...
  • 269 Lulusan PT Terpilih untuk Program Magang Nasional di Kemenpar
    Preview komentar:
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
    Berapa nomor layanan bebas pulsa Bank Nagari? Layanan WhatsApp ...
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2
Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

Kemenkes: 3 Juta Orang Terpapar Asap Karhutla

23 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.