Inflasi Diperkirakan Kembali Naik Usai Diskon Listrik Berakhir
📅 Selasa, 11 Feb 2025, 01:00 WIB | Oleh: Eko S
Doc: istimewa
Jakarta – Inflasi diprediksi akan mengalami kenaikan setelah berakhirnya program diskon tarif listrik yang telah diberlakukan dalam dua bulan terakhir. Program ini sebelumnya memberikan keringanan bagi masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi, namun dengan berakhirnya kebijakan tersebut, biaya hidup diperkirakan akan meningkat seiring dengan kenaikan tarif listrik yang kembali ke level normal.
Head of Macroeconomics and Market Research PermataBank Faisal Rachman memperkirakan, inflasi pada Maret 2025 cenderung akan kembali meningkat setelah program diskon tarif listrik berakhir pada akhir Februari 2025.
“Mungkin di Januari-Februari itu (inflasi) rendah, tetapi di Maret itu kemungkinan inflasi bisa melonjak,” kata Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review: FY 2024 secara virtual di Jakarta, Senin (10/2).
Seperti dikutip dari Antara, Faisal mengatakan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2025 yang terjaga rendah tersebut berada di bawah target Bank Indonesia (BI) dengan batas bawah 1,5 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi deflasi bulanan sebesar 0,76 persen month to month (mtm) pada Januari 2025. Program diskon tarif listrik menjadi penyebab utama deflasi bulanan tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deflasi 0,76 persen mtm pada Januari tahun ini berbeda dengan tren sebelumnya di mana pada Januari biasanya tercatat inflasi karena musim hujan yang berlangsung mendorong harga pangan yang ikut melonjak.
Deflasi Januari 2025 disebabkan oleh penurunan tajam pada kelompok harga yang diatur pemerintah (administered price) dengan deflasi bulanan mencapai 7,38 persen mtm.
Berdasarkan kelompok, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami deflasi tahunan sebesar 8,75 persen yoy, dengan andil deflasi sebesar 1,39 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:

“Secara komponen, housing, water, electricity itu terkena di deflasi 8,75 persen secara year on year (yoy) di bulan Januari, karena faktor itu (diskon tarif listrik). Tetapi kalau kita menghilangkan itu, maka memang inflasi masih akan cenderung di atas 1,5 persen. Jadi memang ini purely mostly memang karena electricity,” jelas Faisal.
Ketika tarif listrik kembali normal dan tidak ada perpanjangan kebijakan program diskon dari pemerintah, maka diperkirakan inflasi kembali meningkat.
Apalagi, bulan Ramadan jatuh pada Maret 2025 dengan permintaan yang cenderung meningkat pada periode tersebut.
Adapun kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Januari 2025 masih mencatatkan inflasi sebesar 3,69 persen yoy, dengan andil inflasi 1,07 persen.
Secara keseluruhan, PermataBank memproyeksikan inflasi Indonesia pada 2025 akan berada di kisaran 2 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!