Riset Menunjukkan Depresi Mengintai Mahasiswa Doktoral
📅 Minggu, 09 Feb 2025, 16:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Ihar Halavach/shutterstock.
Cassie M Hazell, University of Westminster
Mahasiswa S3 merupakan aset penting bagi dunia penelitian, inovasi, dan pendidikan. Sayangnya, masa depan mereka terancam oleh risiko depresi akibat beban studi yang berat.
Penelitian sebelumnya membuktikan adanya risiko masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa PhD. Hal serupa kami temukan saat mempelajari kesehatan mental mahasiswa PhD di Inggris.
Dalam penelitian yang diterbitkan tahun 2021, kami menemukan bahwa mahasiswa PhD berpeluang mengalami tingkat kecemasan dan depresi tertentu, jika dibandingkan dengan pekerja profesional lainnya. Selain itu, mahasiswa PhD juga lebih berisiko memiliki gejala kecemasan dan depresi klinis yang jauh lebih parah daripada kelompok kontrol pekerja profesional.
Depresi mengintai mahasiswa S3
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami melakukan survei terhadap 3.352 mahasiswa PhD, serta 1.256 pekerja profesional yang berperan sebagai kelompok pembanding. Penelitian kami memakai kuesioner yang digunakan pula oleh layanan kesehatan mental National Health Service (NHS) untuk menilai gejala kesehatan mental.
Hasilnya, lebih dari 40% mahasiswa PhD memenuhi kriteria mengidap kecemasan atau depresi tingkat sedang hingga berat. Sebaliknya, 32% pekerja profesional memenuhi kriteria depresi, dan 26% lainnya memenuhi kriteria kecemasan.
Kelompok mahasiswa PhD maupun pekerja profesional memiliki risiko bunuh diri yang sama tingginya, yaitu antara 33-35%. Angka risiko bunuh diri mungkin sangat tinggi karena besarnya tingkat depresi yang ditemukan dalam sampel kami.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kami juga meminta pendapat para mahasiswa PhD mengenai kesehatan mental mereka maupun rekan-rekannya. Lebih dari 40% mahasiswa PhD percaya bahwa mengalami gangguan mental selama studi S3 merupakan hal yang wajar.
Jumlah peserta yang sama (41%) mengungkapkan bahwa sebagian besar rekan PhD mereka memiliki masalah kesehatan mental. Bahkan, lebih dari sepertiga mahasiswa PhD mempertimbangkan untuk mengakhiri studi mereka karena alasan kesehatan mental.
Budaya kerja berlebihan picu depresi
Hasil penelitian kami menegaskan besarnya risiko masalah kesehatan mental di kalangan mahasiswa PhD—melampaui angka yang diketahui publik. Selain itu, penelitian kami menunjukkan adanya masalah dalam sistem studi PhD saat ini, atau bahkan mungkin di dunia pendidikan secara lebih luas.
Dunia akademis terkenal mendorong budaya kerja berlebihan, tetapi minim penghargaan terhadap para akademisi. Budaya kerja ini tertanam dalam pola pikir mahasiswa PhD.
Dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) dan survei untuk penelitian lainnya, mahasiswa PhD melaporkan bahwa penderitaan mereka (dalam menyelesaikan disertasi) dianggap sebagai lambang kehormatan dan tanda bahwa mereka sudah bekerja cukup keras, bukan bekerja terlalu keras. Seorang mahasiswa yang kami wawancara mengatakan:
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!