Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemerintah Harus Berantas Premanisme Guna Memacu Investasi

📅 Jumat, 07 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Harus Berantas Premanisme Guna Memacu Investasi Doc: istimewa
Ket. Ketua Umum HKI Sanny Iskandar - "Mereka ingin itu supaya yang terkait dengan pabrik, dia kan butuh transportasi, catering atau apa, pingin beli ini, beli itu, mau bangun perluasan pabriknya atau apa, mereka itu minta diserahkan ke mereka."

JAKARTA - Himpunan Kawasan Industri (HKI) Indonesia mengaku mengalami kerugian hingga ratusan triliun rupiah karena investor membatalkan penanaman modalnya, bahkan ada yang keluar dari kawasan industri akibat tindakan premanisme dari organisasi kemasyarakatan (ormas).

Ketua Umum HKI Sanny Iskandar, seusai dialog optimalisasi kawasan industri, di Jakarta, Kamis (6/2) ormas tersebut sudah represif dengan mengganggu keamanan, karena masuk ke kawasan industri untuk melakukan demonstrasi. Mereka biasanya meminta diikutsertakan dalam proses pembangunan ataupun aktivitas pabrik.

“Mereka ingin itu supaya yang terkait dengan pabrik, dia kan butuh transportasi, catering atau apa, pingin beli ini, beli itu, mau bangun perluasan pabriknya atau apa, mereka itu minta diserahkan ke mereka,” kata Sanny.

Beberapa investor katanya sudah mengirimkan surat langsung kepada Presiden Prabowo Subianto terkait premanisme ormas, terutama di wilayah seperti Bekasi, Karawang, Jawa Timur, dan Batam.

“Modusnya memang begitu, mereka melakukan unjuk rasa dan segala macam untuk menutup kawasan, sehingga pabrik-pabrik itu nggak bisa keluar, barang-barang nggak bisa masuk, bahan baku nggak bisa masuk, barang jadi nggak bisa keluar,” jelasnya.

Malah ada satu ormas yang sudah melakukan penyegelan pabrik di kawasan industri.

“Kalau lihat fotonya tahulah, bajunya loreng-loreng dan segala macam. Ini yang nyegel bukan polisi, ini ormas. Jadi sudah sampai segitunya,” kata Sanny.

Dia pun meminta Pemerintah menjamin keamanan terutama beberapa kawasan industri yang merupakan objek vital nasional.

Menanggapi pernyataan HKI itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Daerah Istimewa Yogyakarta, Tim Aprianto mengatakan fenomena seperti itu bisa terjadi di mana saja apalagi kalau Pemerintah Daerah (Pemda) tutup mata, bahkan tidak mampu menertibkan ormas yang bertindak tidak sesuai prosedur.

“Kuncinya ada pada supremasi hukum. Supremasi hukum saat ini menjadi barang langka. Jangan sampai aparat penegak hukum (APH) atau oknum tertentu malah terlibat dalam premanisme seperti ini,” kata Aprianto.

Menurut dia, Pemda harus memberikan kemudahan perizinan dan menjamin kepastian hukum agar investasi dapat tumbuh dengan baik. Saat ini, masalah utama yang dihadapi dunia usaha di daerah bukan hanya premanisme, melainkan kompleksitas perizinan yang masih menjadi hambatan utama.

“Yang terjadi di daerah lebih banyak terkait perizinan yang masih kompleks. Kalau mau bicara premanisme, perlu ada bukti nyata. Misalnya, dalam proses perizinan AMDAL, banyak pengusaha yang mengeluhkan mekanisme yang panjang dan tidak terstruktur waktunya. Ini menyebabkan suap terjadi. Apakah suap ini bisa disebut premanisme?” tambahnya.

Bagi pelaku usaha yang tidak melakukan suap sering menghadapi proses yang sangat lama, bahkan bisa memakan waktu dua tahun dengan biaya mencapai 1-2 miliar rupiah tanpa kepastian yang jelas. Kondisi itu berbeda dengan negara-negara lain seperti Vietnam dan Timur Tengah, di mana kepastian hukum dan kemudahan berusaha dijamin negara.

“Investasi butuh kepastian, dan prasyaratnya adalah penegakan hukum yang tegas. Presiden seharusnya menjadikan supremasi hukum sebagai agenda utama agar tidak ada ketimpangan dalam penerapannya. Masalah suap dan premanisme yang menghambat investasi harus segera dilibas,” tegasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Ekonomi
Kuartal I, Hilirisasi Nikel...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

Pemprov Jabar Tolak Status Darurat Sampah, Pemkot Bandung Siapkan Opsi Alternatif Ini

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.