Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Mengapa Pemulung Makin Miskin?

📅 Jumat, 31 Jan 2025, 14:40 WIB | Oleh: Tim Penulis

Ada yang bilang karena gempuran impor sampah atau sampah impor. Isu dan masalah sampah impor mulai santer sejak tahun 1980-an, dan semakin heboh pada tahun 2019/2020-an. Sampah impor membanjiri negara-negara Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filifina, dll. Negara-negara ini sebagai tujuan pasar dumping sampah dari negara-negara maju, seperti Inggris, Jerman, Belanda, Kanada, Amerika, Australia, dll.

Sampah impor membuat kemauan sistem pengelolaan sampah dalam negeri. Impor sampah melemahkan tatanan sosial, ekonomi dan politik lokal, serta mencemari dan menghancurkan lingkungan hidup.

Pemulung menolak keras impor sampah karena merusak harga sampah dalam negeri, menghancurkan ekonomi dan kehidupannya.

Menteri Lingkungan Hidup merespon kondisi buruk yang dialami pemulung, pelapak dan sektor persampahan. Pada Januari 2025 Menteri LH DR. Hanif Faisol Nurofiq melarang impor plastik dan memperketat impor kertas. Bersamaan dengan itu Menteri LH meminta sektor informal membantu pemerintah dalam penyiapan bahan baku plastik dan kertas untuk sektor industri daur ulang.

Pemulung dan keluarganya sudah bekerja sangat keras mengais sampah dan pelapak mengumpulkannya. Namun, kehidupan mereka belum tertolong, masih buruk.

Pemulung tetap miskin, bahkan semakin miskin. Hidup dalam gubuk kumuh, bacin, sanitasi buruk, tak mendapat pelayanan air bersih. Yang sangat menyedihkan, mereka terjerat berbagai utang dan rente. Pemulung semakin kurus dihisap sanga pelaku rente.

Bisakah pemerintah dan dunia usaha daur ulang menolong nasib para pemulung dan pelapak kecil yang terpuruk?

Setidaknya, pemerintah dan dunia usaha daur ulang menjaga stabilitas harga, menaikkan harga sampah dalam negeri, fasilitasi mereka berkaitan dengan permodalan, teknologi dan pasar daur ulang.

Bisa juga pemerintah dan dunia usaha daur ulang memberikan subsidi harga agar pendapat mereka stabil dan meningkat. Sedangkan pelapak kecil dapat menjaga dan mengembangkan usahanya. Mereka bertahun-tahun menunggu perhatian serius pemerintah guna memperbaiki kehidupan sosial ekonominya

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Memahami Kaum Furry, Orang-orang yang Mengidentifikasi Dirinya sebagai Binatang
    Nah that's right thank you ~
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Lagi Gandrung, Semua Mau Dihilirisasi, Termasuk Rumput Laut

58 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Lagi Gandrung, Semua Mau Di...
Advertisement
Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

Makin Tertekan, INACA Desak Pajak Sparepart Pesawat Juga Bisa Ditekan jadi 0%

04 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.