Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dilema Penggunaan AI di ICU, Rentan Picu Tindakan Medis yang Keliru

📅 Minggu, 26 Jan 2025, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis

Cegah bias penggunaan AI di dunia medis

Sayangnya, di lapangan, kerap ada dorongan untuk mengotomasi proses pengambilan keputusan tindakan medis dengan alasan efisiensi sumber daya perawatan intensif.

Misalnya, pada kasus pandemi COVID-19 lalu, besarnya tekanan terhadap penggunaan ICU mendorong otomasi proses pengambilan keputusan seperti alokasi ranjang pasien. Dalam kondisi genting semacam ini, kemungkinan untuk mengambil jalan pintas dengan mengandalkan model AI tanpa mengkritisi prosesnya jadi lebih besar. Padahal, sejumlah isu akses layanan kesehatan, seperti keterbatasan cakupan asuransi, jadwal kerja tenaga kesehatan yang kaku, hingga jauhnya jarak menuju fasilitas kesehatan terdekat disinyalir dapat memperparah bias dalam dunia medis.

Model AI yang sering mengambil keputusan berdasarkan bias yang ada, akan mempelajari pola tersebut sebagai hal yang lumrah, lantas menafsirkannya sebagai pengetahuan penting dalam proses pengambilan keputusan.

Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah pencegahan untuk menghindari bias akibat adopsi teknologi medis berbasis AI, di antaranya:

1. Edukasi AI untuk praktisi kesehatan

Praktisi kesehatan perlu diedukasi mengenai AI agar lebih berhati-hati terhadap potensi maupun keterbatasan teknologi yang sedang berkembang pesat ini.

Institusi pendidikan kesehatan sudah sepatutnya merombak kurikulum dan menjadikan AI sebagai salah satu materi pelajaran. Cara ini dapat membantu mengubah pola pikir praktisi kesehatan mengenai pemanfaatan AI yang perkembangannya sangat masif.

2. Mendorong inovasi AI yang lebih klinis

Praktisi kesehatan harus mendorong para pengembang AI untuk menghasilkan model yang analisis datanya dapat ditafsirkan secara klinis, sederhana, dan transparan.

Adapun pembuat kebijakan perlu mewajibkan para pengembang AI agar membuat model yang transparan, sebelum teknologinya diadopsi lebih luas.

3. Kolaborasi riset

Hal krusial lain yang kerap dilewatkan adalah terbatasnya keragaman data ICU yang tersedia untuk publik. Sebuah ulasan pada 2022, mengungkapkan bahwa data ICU yang tersedia di publik dan digunakan dalam banyak penelitian hanya bersumber dari empat kumpulan data (data set) berbeda yang semuanya berasal dari Eropa dan Amerika Serikat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.