Indikasi Kartel Dalam Tata Niaga dan Impor Beras Terkuak
📅 Senin, 13 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Dugaan dan kecurigaan masyarakat akan adanya pihak-pihak yang berburu rente meraup keuntungan dari tata niaga dan impor beras akhirnya benar-benar terkuak. Terkuaknya permainan pemburu rente itu setelah harga beras dunia berangsur turun setelah Pemerintah Indonesia resmi mengumumkan akan menyetop impor beras tahun ini.
Peneliti Mubyarto Institute, penurunan harga beras dunia menjadi salah satu indikasi tata niaga, importasi, dan pasar pangan global selama ini dikuasai kartel, spekulan, atau pemburu rente pangan.
“Di saat kuasa mereka melemah atau hilang maka harga akan kembali ke harga keekonomian,” kata Awan.
Penurunan harga kata Awan juga bisa dibaca sebagai strategi kartel untuk tetap menguasai pasar dan mengekalkan kebergantungan impor pangan.
“Secara fundamental swasembada pangan mengancam dominasi dan eksistensi mereka. Sebab itu, Pemerintah harus konsisten dan didukung seluruh elemen,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, pengamat Pertanian, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali I Nengah Muliarta melihat fenomena harga beras global dan kebijakan Indonesia untuk menghentikan impor beras sebagai dua sisi dari mata uang yang sama.
Kebijakan itu, meskipun bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, memiliki implikasi yang kompleks, terutama bagi petani lokal.
“Ketika pemerintah mengumumkan penghentian impor beras, reaksi pasar global menunjukkan penurunan harga beras dari 640 dollar AS per metrik ton menjadi 400 dollar AS per metrik ton.
Sebaiknya Anda baca juga:
Di sisi lain, penurunan harga itu dapat mempengaruhi daya saing produk beras Indonesia di pasar internasional. Penurunan harga beras global mungkin akan berdampak pada harga beras lokal.
“Jika harga beras di pasar internasional turun, ada kemungkinan harga beras di tingkat petani juga ikut tertekan. Petani yang sudah berjuang dengan biaya produksi yang tinggi mungkin akan semakin terpuruk, sehingga berdampak pada pendapatan mereka,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan kebijakan untuk menghentikan impor beras memang merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Namun, pemerintah perlu memahami bahwa dampaknya tidak hanya terbatas pada pasar internasional, tetapi juga pada kesejahteraan petani lokal.
“Dengan kebijakan yang tepat, kita dapat menghindari dampak negatif dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan bagi sektor pertanian Indonesia,” kata Muliarta.
Beberapa langkah strategis harus diambil antara lain perlunya Pemerintah mempertimbangkan program dukungan harga untuk petani, sehingga mereka tidak terpuruk oleh fluktuasi harga global. Subsidi atau mekanisme penetapan harga minimum dapat membantu stabilitas pendapatan petani. Selain itu, perlu membangun infrastruktur pertanian, seperti irigasi dan akses pasar sehingga meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Dengan demikian, petani dapat bersaing meskipun harga beras global turun.
Impor Ilegal
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!