AS: Korut Menjadi Lebih Berbahaya
📅 Sabtu, 11 Jan 2025, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/KCNA VIA KNS
SEOUL - Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa kerja sama militer antara Korea Utara (Korut) dan Russia, membuat Pyongyang lebih mampu berperang melawan negara-negara tetangganya.
Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Dorothy Camille Shea, menyampaikan peringatan tersebut pada pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (8/1).
“Korut telah mempelajari pelajaran berharga dari pertempuran melawan Ukraina, yang membuatnya menjadi ancaman besar bagi negara-negara tetangganya,” kata Wakil Dubes Shea. "Pada gilirannya, Korut kemungkinan besar akan lebih bersemangat untuk memanfaatkan peningkatan ini guna mempromosikan penjualan senjata dan kontrak pelatihan militer secara global," imbuh dia.
Dalam beberapa bulan terakhir, Korut telah mengirim sekitar 12.000 tentara untuk berperang bagi Russia melawan Ukraina sebagai bagian dari pakta keamanan baru antara pemimpinnya, Kim Jong-un, dan Presiden Russia, Vladimir Putin.
Pertempuran terpusat di wilayah Kursk Russia, tempat Ukraina telah merebut dan menguasai sebagian besar wilayah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pyongyang juga, kata Shea, telah mengirim lebih dari 20.000 kontainer pengiriman amunisi ke Russia sejak Desember 2023 yang berisi sedikitnya enam juta peluru artileri berat dan lebih dari 100 misil balistik.
Sebagai gantinya, Pyongyang menerima dukungan ekonomi dan diplomatik dari Kremlin, serta teknologi militer yang berharga.
Pertemuan tersebut diadakan setelah peluncuran misil Korut pada Senin (6/1). Pyongyang mengklaim negaranya telah berhasil menguji coba misil balistik hipersonik jarak menengah jenis baru.
Sebaiknya Anda baca juga:
PBB sebenarnya telah lama berupaya membatasi program militer Korut, khususnya kemampuannya untuk menyebarkan senjata nuklir, dengan menjatuhkan sanksi yang berat. Tetapi Russia telah menggunakan posisinya di Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi sebuah komite yang dibentuk untuk menegakkan sanksinya.
Shea mengatakan Korut saat ini mendapat keuntungan besar dengan menerima peralatan, teknologi, dan pengalaman militer Russia, yang membuat negara itu lebih mampu berperang melawan negara-negara tetangganya.
"Kami khususnya prihatin dengan niat Moskwa untuk berbagi teknologi satelit dan antariksa dengan Pyongyang, yang sangat penting bagi kemampuan komunikasi dan pengumpulan intelijen militer di medan perang modern, seperti yang telah kita lihat di Ukraina," ungkap Wakil Dubes Shea.
“Uang Darah”
Duta Besar Russia untuk PBB, Vassily Nebenzia, menolak tuduhan AS tersebut yang menyatakan bahwa Moskwa berencana berbagi teknologi antariksa dan satelit canggih dengan Korut. Nebenzia mengatakan klaim yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, pada Senin sama sekali tidak berdasar.
Mengacu pada peluncuran misil tersebut, Dubes Nebenzia mengatakan bahwa kepemimpinan Korut memiliki hak penuh untuk menerapkan tindakan guna memastikan keamanan dan menegakkan kedaulatan negara tersebut. Dubes Nebenzia juga mengatakan bahwa uji coba misil baru Korut merupakan tindakan defensif sebagai respons terhadap latihan militer oleh AS dan sekutu regionalnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!