Pemimpin Baru Suriah akan Tarik Senjata dari Tangan Nonmiliter
📅 Selasa, 24 Des 2024, 02:59 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/TURKISH FOREIGN MINISTRY
DAMASKUS - Dua pekan setelah merebut kekuasaan dalam serangan besar-besaran, pemimpin baru Suriah, Ahmed al-Sharaa, pada Minggu (22/12) mengatakan semua senjata di negaranya, termasuk yang dimiliki oleh pasukan pimpinan Kurdi, akan dikuasai oleh negara.
Hal itu diutarakan Sharaa ketika berbicara bersama Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, setelah sebelumnya bertemu dengan para pemimpin Druze Lebanon dan berjanji untuk mengakhiri "campur tangan negatif” di negara tetangga tersebut.
Pemberontak yang didukung Ankara memainkan peran kunci dalam mendukung kelompok Islamis Sharaa, Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang memimpin aliansi pemberontak dan merebut Damaskus pada 8 Desember lalu dan menggulingkan penguasa lama, Bashar al-Assad.
Dalam konferensi pers dengan Menlu Fidan, Sharaa mengatakan faksi-faksi bersenjata Suriah akan mulai mengumumkan pembubaran mereka dan bergabung dengan tentara.
"Kami sama sekali tidak akan mengizinkan adanya senjata di negara ini yang berada di luar kendali negara, baik dari faksi revolusioner maupun faksi yang ada di wilayah SDF," ucap Sharaa, mengacu pada Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sharaa juga mengatakan bahwa pemerintah transisinya akan berupaya melindungi sekte dan kelompok minoritas dari segala serangan yang terjadi di antara mereka dan dari aktor "eksternal" yang memanfaatkan situasi untuk menimbulkan perselisihan sektarian.
"Suriah adalah negara untuk semua dan kita bisa hidup berdampingan," tegas dia.
Sementara itu Menlu Fidan dari Turki mengatakan sanksi terhadap Suriah harus dicabut secepatnya dan ia menyerukan agar masyarakat internasional untuk bergerak membantu Suriah bangkit kembali dan agar para pengungsi dapat kembali.
Sebaiknya Anda baca juga:
Perang saudara di Suriah yang berlangsung hampir 14 tahun telah menewaskan lebih dari setengah juta orang dan membuat lebih dari separuh penduduknya mengungsi, banyak dari mereka mengungsi ke negara tetangga, termasuk 3 juta orang lari ke Turki.
Turki telah mempertahankan hubungan yang kuat dengan para pemimpin baru Suriah dan masih melanjutkan operasi militer terhadap wilayah yang dikuasai Kurdi di Suriah timur laut.
Ankara menganggap Unit Perlindungan Rakyat (YPG), komponen utama SDF, terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang militan di dalam negeri, dan dianggap sebagai organisasi teroris oleh Turki dan sekutu Barat.
Akhiri Campur Tangan
Sementara itu dalam pertemuannya dengan para pemimpin Druze Lebanon, Walid dan Taymur Jumblatt, Sharaa mengatakan Suriah tidak akan lagi terlibat dalam campur tangan negatif apa pun di Lebanon.
Suriah, ucap Sharaa, akan menjaga jarak yang sama dari siapapun di Lebanon seraya mengakui bahwa Suriah telah menjadi sumber ketakutan dan kecemasan bagi tetangganya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!