Malaysia Pulangkan 1.500 Pengungsi Myanmar, PBB dan Kelompok HAM Khawatirkan Keselamatan Mereka
📅 Minggu, 04 Okt 2026, 11:52 WIB | Oleh: Tim PenulisTANLYN - Hampir 1.500 migran asal Myanmar kembali ke negara asal mereka yang dilanda perang setelah dipulangkan dari Malaysia pada hari Minggu (4/10), kata seorang pejabat Myanmar.
Pemulangan ribuan migran tersebut dilakukan di bawah skema repatriasi yang tidak transparan yang menurut para pengawas hak asasi manusia tidak dapat menjamin keselamatan mereka.
Ratusan keluarga berkumpul saat fajar untuk menjemput kerabat mereka di luar pangkalan Angkatan Laut Myanmar di Thanlyin, tempat mobil, taksi, dan bus diparkir berjejer rapi.
Beberapa orang mengangkat papan kertas bertuliskan foto atau nama kerabat mereka.
Meskipun beberapa orang diizinkan melewati gerbang untuk menyambut anggota keluarga mereka, seorang pejabat angkatan laut memupus harapan sebagian besar orang untuk segera berkumpul kembali.
"Kalian tidak bisa membawa mereka langsung," teriaknya melalui pengeras suara, seraya mengatakan bahwa para pengungsi yang kembali akan dibawa ke berbagai lokasi di wilayah Yangon di mana kerabat mereka dapat menemui mereka nanti.
Seorang wanita mengatakan, dia mencari saudara laki-lakinya yang berusia 19 tahun yang ditangkap di Malaysia tak lama setelah tiba di sana tiga bulan lalu.
"Kami melihat namanya di daftar orang yang kembali, tetapi kami tidak bisa masuk ke dalam untuk mencarinya," kata wanita yang menolak menyebutkan namanya karena alasan keamanan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperingatkan bahwa kondisi di Myanmar, yang dilanda perang saudara sejak kudeta militer tahun 2021, tidak menjamin keamanan mereka sebagaimana dipersyaratkan oleh hukum internasional.
Malaysia bersikeras semua pengungsi yang kembali setuju untuk dipulangkan secara sukarela dari pusat-pusat penahanan, tetapi PBB dan kelompok-kelompok HAM telah menyatakan keprihatinannya bahwa para migran Myanmar tidak memiliki banyak pilihan.
Para repatriat diangkut keluar dari pangkalan menggunakan bus kota Yangon, beberapa di antaranya mengenakan kaos bertuliskan "Kami mencintai Myanmar".
Kyaw Myint, 55 tahun, mengatakan ia datang untuk menjemput tiga cucunya yang ditahan di Malaysia selama satu setengah tahun, dan yang tidak ia jumpai selama enam tahun.
Sekarang ia khawatir mereka akan direkrut di Myanmar -- "tidak hanya oleh militer tetapi juga oleh kelompok bersenjata etnis", katanya.
Sentimen Anti-Rohingya
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!